
ZNEWS.ID FLORES TIMUR – Pagi yang sejuk menyambut Matahari yang mulai menyinari Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Dari lapangan di belakang desa, tampak pemandangan Gunung Lewotobi Laki-laki berdiri anggun, meski sebagian tertutup kabut
Tampak beberapa orang pria menggelar daun-daun pisang yang berbaris rapi di atas sebuah terpal biru. Diiringi suara gesekan besi dari salah satunya yang mengasah tajam bilah pisau.
Beberapa orang lainnya datang kemudian membawa dua ekor sapi. Sekitar pukul 06.00 WITA pada Hari Tasyrik pertama, Sabtu (7/6/2025), takbir Iduladha 1446 Hijriah menggema di desa itu.
Doa-doa terlantun. Dengan sakral dan haru bahagia, hewan kurban persembahan tersembelih. Tak lama berselang, hamparan daun-daun pisang tersaji potongan-potongan daging kurban di atasnya.
Pagi itu pula penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki berbahagia menerima bantuan daging Tebar Hewan Kurban (THK) amanah donatur Dompet Dhuafa. Di antara penyintas yang bersyukur tersebut adalah keluarga Sri dan Mama Isya.
Sri merupakan penyintas letusan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang kala itu mengungsi ke Larantuka. Ditemui di rumahnya saat distribusi THK, nampak jelas dampak erupsi itu. Atapnya terbuka, seng-seng lepas. Rumah penuh dengan abu vulkanik yang basah sisa hujan.
“Ruang tamu dan kamar sudah hancur, tidak ada atap juga. Jadi kalau hujan, air masuk. Yang penting kamar dan dapur sudah ditutupi oleh terpal. Anak saya masih usia tiga tahun pun harus ikut bertahan dalam situasi seperti ini,” jelas Sri dengan mata berkaca-kaca.

Suaminya berhenti bekerja beberapa bulan pasca bencana erupsi tersebut. Selama itu keluarga kecilnya bertahan hidup mengandalkan bantuan makanan dan logistik dari bantuan bencana.
“Sekarang makan susah, jadi daging kurban ini sangat berarti sekali bagi kami, terima kasih, ya,” ungkapnya, bahagia.
Begitu pula ditemui Mama Isya ketika menerima distribusi daging kurban. Ia seorang lansia penyintas erupsi yang tinggal seorang diri di rumahnya yang juga terdampak letusan. Meski belum tahu akan dimasak apa, ia bahagia karena perhatian THK pagi itu menghampirinya.
Salah satu donatur, Rahmi Syofia, kembali merelawankan dirinya untuk ikut langsung dalam distribusi THK bersama Dompet Dhuafa. Ia dikenal sebagai Mimi Campervan Girl, seorang perempuan pejalan dan pegiat sosial yang mencari dan menebar makna dengan kearifan lokal.
Tahun ini merupakan kali kedua bagi Mimi melibatkan diri dalam kegiatan THK bersama Dompet Dhuafa. Setelah di Pulau Kei, Maluku, tahun lalu, kini ia ikut menjelajah kurban di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelum distribusi, ia menginisiasi ajakan patungan kurban kepada pengikutnya di media sosial. Ini menginspirasi khalayak untuk menebar manfaat kurban di wilayah 3T (terpencil, terluar, terdalam) Indonesia.
“Aku melihat langsung proses THK bersama Dompet Dhuafa saat di Maluku tahun lalu, dan ini membuka mata dan menjadi ilmu baru. Tentang wilayah-wilayah yang baru aku sambangi, kebahagiaan juga manfaat bagi mereka para penerima yang aku temui, dan syariat kurban yang aku pelajari,” jelas Mimi.

Alhamdulillah, semangat kebaikan Mimi Campervan menginspirasi sebanyak 28 pekurban untuk ikut berbagi kebahagiaan melalui THK Dompet Dhuafa. Sejumlah lima ekor sapi dan sembilan ekor kambing, didistribusikan ke tiga desa di Kabupaten Flores Timur.
“Aku belajar banyak dari yang aku temui melalui perjalanannya. Mensyukuri hidup dan menjadi ‘obat’ bagi diri ku pribadi. Sekaligus menikmati proses menjaga wasilah teman-teman pekurban juga Dompet Dhuafa,” ungkapnya lagi.
Di Nusa Tenggara Timur, program Tebar Hewan Kurban (THK) mendistribusikan sebanyak 128 ekor sapi dan 50 ekor kambing. Hewan kurban setara dengan 1.646 setara doka ini tersebar distribusinya di 15 kabupaten, antara lain: Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Sikka, Bajawa, Ende, Rote, Flores Timur, Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, juga Manggarai Barat.
Dan bagi masyarakat Kabupaten Flores Timur, khususnya yang tinggal di Kecamatan Wu6langgitang masih menjalankan hidupnya dalam kewaspadaan akan letusan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang berstatus siaga level lll hingga saat ini.
Ketika ada informasi dan tanda-tanda letusan akan terjadi (lagi), para penyintas kembali mengungsi. Meski trauma pahit masih dalam memori.
Dampaknya pun masih mereka rasakan. Kegiatan pembelajaran sekolah terganggu, mata pencaharian hilang, juga kerusakan kediaman yang belum kunjung aman. Penghasilan yang belum menemukan kata stabil, terkadang masih mengandalkan bantuan makanan.
Mereka bersyukur THK hadir. Di tengah sesuatu yang tidak pasti, kurban mu sangat berarti. Kurban mu sengaruh itu. Terima kasih para donatur.
Oleh: Dhika Prabowo





























