Ilustrasi Kemerdekaan dan Kesejahteraan Rakyat Paripurna. (Foto: Unsplash)

Oleh: Dr Taufan Hunneman (Dosen UCIC, Cirebon)

ZNEWS.ID JAKARTA – Bung Karno dalam pidatonya yang sangat monumental lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945, memberikan metafora bagus, ketika menyatakan, bahwa kemerdekaan (Indonesia) adalah jembatan emas menuju masyarakat yang sejahtera.

Menjadi tantangan bagi pemerintahan presiden dan wapres (terpilih) Prabowo Subianto – Gibran, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat hakiki, sebagaimana pesan Bapak Bangsa tersebut.

Setidaknya, ada tiga elemen pokok bagi indikator kesejahteraan masyarakat, yakni pangan (sembako), papan (rumah tinggal yang layak), dan sandang (pakaian).

Namun, bila boleh diperas, yang mendesak adalah faktor pangan dan papan, sementara masalah sandang masih bisa ditolerir untuk ditunda, setidaknya untuk sementara waktu.

Bahkan, sebenarnya masih ada satu faktor lagi, yaitu kemudahan akses pendidikan bagi anak-anak warga tak mampu, mengingat pendidikan adalah faktor penentu masa depan, agar anak-anak itu bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.

Namun, sekali lagi harus diingat, agar anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa sekolah dengan baik, perlu juga asupan pangan yang baik, serta tinggal di rumah yang layak.

Sungguh menjadi tantangan bagi pemerintahan mendatang, untuk mewujudkan masyarakat sejahtera sepenuhnya atau paripurna.

Kemiskinan Ekstrem

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), porsi ekonomi nasional lebih dari separuhnya (57,04 persen) masih disumbangkan Pulau Jawa, kemudian Pulau Sumatera memberikan kontribusi terbesar kedua, yakni 22,08 persen.

Semester pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi di Jawa 4,92 persen, sementara di Sumatera 4,48 persen untuk periode yang sama. Lebih dari tiga perempat ekonomi Indonesia disumbang oleh pertumbuhan ekonomi kedua pulau tersebut.

LEAVE A REPLY