
Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur IMZ Consulting, konsultan dan trainer di bidang leadership dan pengembangan diri, manajemen SDM, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat, Penulis Buku Menebar Cahaya di Negeri Sekeping Surga)
ZNEWS.ID JAKARTA – Saat pertama kali belajar tenis meja dulu, saya belajar pada ayah. Dia menjadi mentor saya; membimbing saya berlatih dari satu teknik pukulan ke teknik pukulan yang lain.
Dia mengoreksi jika saya melakukan kesalahan. Saya mendapat feedback saat berlatih pukulan. Proses berlatih lebih cepat jika belajar pada seorang mentor.
Kalau Anda belum punya pengalaman di pekerjaan, jangan memilih tempat kerja semata dengan pertimbangan besarnya gaji. Pilihlah tempat kerja yang Anda bisa belajar lebih banyak dan lebih cepat.
Itu bisa berupa pekerjaan di organisasi besar yang sistemnya bagus atau organisasi kecil yang dipimpin seorang leader yang cakap. Di tahun-tahun awal bekerja, fokuslah mengasah skill di pekerjaan. Jadikan atasan atau karyawan yang lebih senior sebagai mentor Anda.
Saya dulu menetapkan sepuluh tahun pertama kerja itu fase belajar. Fase membangun kompetensi diri. Saya memilih Astra untuk tempat pertama saya membangun kompetensi.
Di perusahaan itu, saya menemukan leader-leader cakap yang kemudian saya jadikan mentor. Juga, sistem bisnis yang mapan dan teruji puluhan tahun di lebih dari 100 anak perusahaan.
Salah satu leader yang saya jadikan mentor namanya Pak Daniel Dianto. Dia adalah Chief of Astra Management Development Institute; pusat pengembangan manajemen yang digagas sebagai konsultan internal dan pusat pengembangan leader di internal Astra.

























