Jakarta, ZNews.id – Sahur menjadi penopang utama energi anak selama berpuasa. Apa yang dimakan sebelum imsak akan sangat menentukan apakah anak bisa beraktivitas dengan nyaman atau sebaliknya. Anak justru cepat lemas, haus, dan mengeluh sakit perut.

Karena itu, memilih menu sahur bukan hanya soal makanan favorit anak. Lebih dari itu, sahur juga terkait dampaknya bagi tubuh selama berjam-jam tanpa asupan.

Tanpa disadari, banyak makanan yang tampak praktis dan menggugah selera justru kurang bersahabat untuk pencernaan dan stamina anak saat puasa. Berikut adalah jenis makanan yang sebaiknya dihindari atau dibatasi agar sahur anak benar-benar mendukung puasanya.

Makanan Tinggi Gula: Energi Cepat yang Cepat Habis

Makanan manis seperti donat, kue, permen, atau minuman manis memang mudah membuat anak bersemangat saat sahur. Namun, efeknya tidak bertahan lama. Gula dapat memicu lonjakan energi secara cepat, lalu turun drastis dalam waktu singkat.

Akibatnya, anak bisa merasa lemas, mengantuk, bahkan pusing di siang hari. Selain itu, makanan tinggi gula umumnya rendah serat dan zat gizi penting. Jika dikonsumsi terlalu sering, risikonya bukan hanya mengganggu puasa, tetapi juga meningkatkan peluang obesitas dan gangguan metabolik di kemudian hari.

Makanan Asin dan Tinggi Garam: Bikin Cepat Haus

Makanan asin seperti makanan cepat saji, camilan kemasan, mie instan, atau makanan dengan banyak penyedap rasa sebaiknya tidak menjadi menu sahur anak. Kandungan garam yang tinggi membuat tubuh menarik lebih banyak cairan.

Dampaknya, anak akan lebih cepat merasa haus selama puasa. Pada kondisi tertentu, hal ini bisa meningkatkan risiko dehidrasi dan membuat anak tidak nyaman hingga sulit berkonsentrasi di sekolah.

Makanan Berminyak dan Berlemak: Berat di Perut

Gorengan dan makanan berlemak sering dianggap praktis untuk sahur. Padahal, jenis makanan ini membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Pada anak, hal ini bisa memicu rasa penuh berlebihan, mual, kembung, bahkan sakit perut.

Alih-alih membuat kenyang tahan lama, makanan berlemak justru dapat membuat sistem pencernaan bekerja lebih berat, sehingga anak merasa tidak nyaman saat berpuasa.

Makanan Pedas: Risiko Iritasi Lambung

Rasa pedas memang menggugah selera, tetapi tidak ideal untuk menu sahur anak. Makanan pedas dapat memicu iritasi lambung, terutama pada anak yang memiliki saluran cerna sensitif.

Keluhan seperti nyeri perut, mual, hingga muntah bisa muncul saat puasa dan tentu akan mengganggu kenyamanan anak menjalani ibadah.

Makanan Tinggi Indeks Glikemik: Cepat Lapar

Makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti nasi putih berlebihan, roti putih, atau makanan olahan tertentu, dapat meningkatkan gula darah dengan cepat. Namun, efeknya tidak bertahan lama dan justru membuat anak lebih cepat lapar.

Sebaliknya, makanan dengan indeks glikemik rendah hingga sedang—seperti oatmeal, roti gandum utuh, telur, sayuran, dan buah segar—lebih membantu menjaga energi anak tetap stabil sepanjang hari.

Mie Instan dan Makanan Olahan: Praktis tapi Minim Gizi

Mie instan sering menjadi pilihan karena cepat disajikan dan disukai anak. Sayangnya, makanan ini tinggi garam, lemak, dan bahan tambahan, sementara kandungan gizinya relatif rendah.

Jika dijadikan menu sahur, mie instan cenderung tidak memberi rasa kenyang yang tahan lama. Anak bisa cepat lapar dan kurang bertenaga sebelum waktu berbuka.

Makanan dengan Bahan Tambahan Berisiko

Makanan yang mengandung pewarna buatan, pengawet berlebihan, atau bahan kimia tertentu sebaiknya dihindari, terutama saat sahur. Konsumsi jangka panjang dapat berdampak pada pencernaan, memicu reaksi alergi, hingga mengganggu kesehatan anak secara keseluruhan.

Minuman Berkafein: Ganggu Cairan dan Tidur

Selain makanan, jenis minuman juga perlu diperhatikan. Minuman berkafein seperti teh, kopi, atau soda memiliki efek diuretik yang membuat anak lebih sering buang air kecil.

Akibatnya, cairan tubuh lebih cepat berkurang dan risiko dehidrasi meningkat. Kafein juga bisa mengganggu kualitas tidur anak setelah sahur, sehingga tubuh tidak cukup beristirahat.

Menyiapkan Sahur yang Lebih Bersahabat untuk Anak

Sahur yang baik bukan harus mewah, tetapi seimbang dan mudah dicerna. Mengombinasikan karbohidrat kompleks, protein, sayur, buah, serta cukup air putih dapat membantu anak menjalani puasa dengan lebih nyaman.

Dengan menghindari makanan yang berisiko dan memilih menu yang tepat, sahur tidak hanya mendukung kelancaran puasa, tetapi juga menjaga kesehatan anak secara menyeluruh. Jika anak memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sering mengeluh tidak nyaman saat puasa, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bisa menjadi langkah bijak sebelum menyusun menu sahur hariannya.

LEAVE A REPLY