Jakarta, ZNews.id – Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga soal bagaimana tubuh beradaptasi dengan perubahan pola makan. Selama belasan jam, lambung berada dalam kondisi kosong dan beristirahat. Ketika waktu sahur dan berbuka tiba, apa yang masuk ke tubuh akan sangat menentukan apakah puasa dijalani dengan nyaman atau justru penuh keluhan.
Sayangnya, banyak orang masih menganggap remeh pilihan makanan saat puasa. Berbuka dijadikan ajang “balas dendam”. Sementara sahur sering diisi seadanya tanpa mempertimbangkan kandungan gizi.
Padahal, kebiasaan ini bisa memicu gangguan pencernaan, tubuh lemas, hingga dehidrasi. Agar puasa berjalan lebih optimal, ada sejumlah jenis makanan yang sebaiknya dibatasi bahkan dihindari, baik saat sahur maupun berbuka.
Mengapa Lambung Perlu Diperlakukan Lebih Lembut saat Puasa?
Setelah lebih dari 12 jam tidak menerima asupan makanan dan minuman, sistem pencernaan bekerja dalam ritme yang berbeda. Lambung menjadi lebih sensitif, produksi asam bisa meningkat, dan proses pencernaan berjalan lebih lambat. Karena itu, berbuka puasa idealnya dilakukan secara bertahap dengan makanan yang mudah dicerna dan bernutrisi seimbang.
Jika langsung dihadapkan pada makanan berat, berminyak, atau terlalu merangsang, tubuh justru “kaget”. Akibatnya, muncul keluhan seperti perut perih, kembung, mual, bahkan rasa lemas yang berkepanjangan.
Makanan Pemicu Masalah Pencernaan saat Berbuka
Salah satu jenis makanan yang paling sering menimbulkan keluhan saat berbuka adalah makanan dengan rasa pedas dan asam. Kandungan cabai, cuka, atau rempah tajam dapat merangsang produksi asam lambung secara berlebihan, terutama ketika perut masih kosong. Bagi orang yang memiliki riwayat maag, kondisi ini berisiko memicu kambuhnya nyeri lambung.
Selain itu, minuman seperti kopi dan minuman berkarbonasi kerap dianggap teman ideal berbuka. Padahal, keduanya dapat memperparah iritasi lambung dan memicu rasa kembung. Sifat diuretik pada kopi dan soda juga membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan, sehingga risiko dehidrasi semakin besar setelah seharian berpuasa.
Gorengan dan makanan tinggi lemak juga patut diwaspadai. Lemak jenuh dan lemak trans yang terkandung di dalamnya membuat makanan lebih sulit dicerna dan dapat memperlambat pengosongan lambung. Akibatnya, perut terasa penuh lebih lama, asam lambung meningkat, dan dalam jangka panjang berisiko meningkatkan kadar kolesterol.
Tak kalah penting, makanan instan dan junk food sering kali rendah serat dan miskin nutrisi. Mengandalkan mi instan, sosis, atau daging olahan saat berbuka memang praktis, tetapi tidak membantu pemulihan energi tubuh secara optimal. Tubuh justru membutuhkan makanan segar dan bernutrisi untuk mengganti cadangan energi yang terkuras selama puasa.
Sahur sebagai Penentu Energi Seharian
Jika berbuka berfungsi memulihkan kondisi tubuh, maka sahur adalah fondasi energi sepanjang hari. Di Indonesia, durasi puasa berkisar 12–13 jam, sehingga tubuh membutuhkan bekal nutrisi yang cukup agar tidak mudah lemas dan sulit berkonsentrasi.
Kesalahan memilih menu sahur sering kali berujung pada rasa lapar lebih cepat, pusing, atau bahkan mual saat beraktivitas. Oleh karena itu, sahur seharusnya tidak diisi dengan makanan yang terlalu berat atau merangsang kerja pencernaan secara berlebihan.
Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari saat Sahur
Makanan berminyak dan berkadar lemak tinggi sebaiknya tidak mendominasi menu sahur. Jenis makanan ini memaksa sistem pencernaan bekerja lebih keras, sehingga tubuh justru lebih cepat merasa lelah di siang hari. Hal serupa juga berlaku untuk makanan bersantan yang cenderung berat dan dapat mengganggu kenyamanan lambung selama puasa.
Beberapa sayuran tertentu seperti kol, brokoli, dan asparagus memang sehat, tetapi kandungan gas alaminya bisa memicu perut kembung dan rasa begah saat puasa. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar saat sahur, efeknya bisa mengganggu kenyamanan sepanjang hari.
Makanan dengan rasa terlalu pedas atau asam juga sebaiknya dihindari saat sahur. Kedua rasa ini dapat mengiritasi dinding lambung dan memicu rasa perih ketika perut dibiarkan kosong dalam waktu lama. Begitu pula dengan makanan tinggi garam yang dapat membuat tubuh lebih cepat haus, serta makanan terlalu manis yang memicu lonjakan gula darah diikuti penurunan energi secara drastis.
Menjaga Hidrasi dan Pola Makan Seimbang
Selain memperhatikan jenis makanan, kecukupan cairan juga memegang peran penting selama puasa. Memenuhi kebutuhan air putih minimal delapan gelas sehari dapat dibagi saat sahur, berbuka, dan sebelum tidur. Asupan cairan yang cukup membantu mencegah dehidrasi dan menjaga stamina tetap stabil.



























