Jakarta, ZNews.id – Penyakit Jantung Bawaan (PJB) masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian anak di Indonesia. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 45.000 bayi lahir dengan kelainan struktur jantung sejak lahir. Namun, sebagian besar kasus baru teridentifikasi ketika kondisi anak sudah berat dan membutuhkan penanganan kompleks.
Secara global dan di kawasan Asia Tenggara, prevalensi PJB berada di kisaran 9–10 per 1.000 kelahiran hidup. Artinya, dari setiap 100 bayi yang lahir, satu di antaranya menyandang PJB. Di Indonesia, persoalan ini diperberat oleh keterlambatan deteksi. Lebih dari 60 persen kasus diketahui terlambat, akibat terbatasnya skrining dini dan belum tersedianya data prevalensi nasional yang komprehensif.
Skrining Nasional Dibuka, Data Awal Mulai Terbaca
Menjawab persoalan tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggelar program edukasi dan skrining PJB gratis secara serentak di berbagai daerah. Program ini berlangsung dalam rangka Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan pada 24 Januari hingga 14 Februari 2026.
Skrining menyasar anak dan remaja di bawah usia 18 tahun, terutama siswa sekolah dasar hingga menengah, sekolah luar biasa, serta pesantren. Kegiatan dilaksanakan di 29 kota dan kabupaten yang tersebar di 24 provinsi, dari Banda Aceh hingga Jayapura.
Selain bertujuan menjaring kasus PJB sejak dini, program ini juga menjadi langkah awal membangun basis data dan registri nasional PJB, sesuatu yang selama ini belum dimiliki Indonesia.
Rekor Nasional dan Kolaborasi Lintas Sektor
Skala pelaksanaan skrining ini mencatatkan prestasi tersendiri. Program deteksi dini PJB secara serentak tersebut meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai kegiatan deteksi dini PJB kepada anak terbanyak.
Penyerahan penghargaan dilakukan pada Malam Puncak CHD Awareness Week di RS Harapan Kita, Jakarta, 14 Februari 2026. Momen ini menjadi simbol kolaborasi lintas sektor—antara organisasi profesi, rumah sakit, pemerintah daerah, dinas kesehatan, hingga dukungan industri teknologi kesehatan—dalam membangun sistem deteksi dini dan rujukan yang lebih terkoordinasi.
Pemerintah Dorong Percepatan Penyelamatan Anak
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa PJB merupakan persoalan serius yang membutuhkan respons agresif dan berkelanjutan.
“Setiap tahun puluhan ribu bayi di Indonesia lahir dengan penyakit jantung bawaan, dan banyak di antaranya sudah dalam kondisi berat. Per 2025, skrining terhadap hampir 1,7 juta bayi menunjukkan masih banyak kasus yang belum tertangani dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah akan memperkuat kapasitas layanan dengan menambah jumlah dokter spesialis jantung anak dan bedah jantung anak, agar intervensi—baik nonbedah maupun bedah—dapat dilakukan lebih luas dan cepat. “Ke depan, kita harus lebih agresif lagi dalam upaya penyelamatan nyawa mereka,” kata Budi.
Temuan Lapangan: Prevalensi Lebih Tinggi dari Rata-rata Global
Ketua PERKI, dr. Ade Median Ambari SpJP(K), PhD, FIHA, menyebut PJB sebagai salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian anak, baik di dunia maupun di Indonesia.
“Data Asia Tenggara menunjukkan prevalensi PJB sekitar 9–10 per 1.000 kelahiran hidup. Di Indonesia, sekurangnya ada 45 ribu bayi per tahun dengan PJB. Tantangan terbesar kita adalah keterlambatan deteksi, yang angkanya mencapai lebih dari 60 persen,” ujarnya.
Selama periode skrining nasional, sebanyak 2.702 anak diperiksa. Dari jumlah tersebut, 2.478 anak menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan ekokardiografi. Hasilnya, ditemukan 53 kasus PJB dengan prevalensi 2,14 persen—lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata global maupun Asia Tenggara.
Anak Rentan dan Pentingnya Deteksi sejak Dini
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, dr. Oktavia Lilyasari, M.Kes., SpJP(K), FIHA, menekankan bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki angka prevalensi nasional PJB yang baku.
“Program skrining ini bukan hanya menjaring kasus lebih dini, tetapi juga menjadi fondasi awal registri PJB nasional. Data yang kami kumpulkan mencakup antropometri, tanda vital, pemeriksaan fisik jantung, hingga ekokardiografi,” jelasnya.
Ia mengungkapkan adanya kecenderungan PJB lebih banyak ditemukan pada anak dengan berat badan rendah, stunting, faktor risiko tertentu, serta anak berkebutuhan khusus. Anak-anak yang terdeteksi PJB langsung diberikan rujukan dan edukasi kepada orang tua untuk penanganan lanjutan.
Menuju Sistem Nasional Penyakit Jantung Bawaan
Dengan mengusung tema “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan, Selamatkan Masa Depan Anak”, program ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi Indonesia dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat PJB.
Melalui peningkatan kesadaran publik, perluasan akses skrining, dan kolaborasi lintas sektor, deteksi dini diharapkan tidak lagi menjadi kemewahan, melainkan bagian dari layanan dasar kesehatan anak. Karena bagi anak-anak dengan PJB, waktu adalah penentu masa depan—dan setiap detak jantung adalah harapan.



























