Jakarta, ZNews.id – Pemerintah Rusia menyampaikan kecaman keras menyusul serangan militer yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Dalam serangan tersebut, Tel Aviv dan Washington juga mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas.
Melalui pernyataan resmi yang dikutip Reuters, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut operasi militer tersebut sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. Hal itu juga berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih dalam.
Israel melancarkan pemboman terhadap sejumlah target di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan serangan udara itu menewaskan Khamenei. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengulang klaim serupa.
Rusia Sebut Serangan “Petualangan Berbahaya”
Moskow menilai langkah Israel dan Amerika Serikat sebagai tindakan sembrono yang berisiko besar.
“Washington dan Tel Aviv sekali lagi memulai petualangan berbahaya yang secara cepat membawa kawasan ini (Timur Tengah) kian dekat dengan bencana kemanusiaan, ekonomi, dan mungkin bencana radiologis,” pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Rusia memperingatkan eskalasi militer semacam ini dapat memicu dampak luas, tidak hanya bagi negara-negara di kawasan, tetapi juga bagi stabilitas global.
“Dengan menjerumuskan Timur Tengah ke dalam jurang eskalasi yang tidak terkendali, mereka sebenarnya mendorong negara-negara di seluruh dunia, terutama di kawasan ini untuk memperoleh sarana yang lebih serius melawan ancaman yang muncul,” lanjut pernyataan tersebut.
Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Moskow konflik dapat berkembang di luar kendali dan memicu perlombaan senjata atau respons militer lanjutan dari negara-negara lain.
Medvedev Sindir Trump dan Bandingkan dengan Persia
Kecaman juga datang dari Wakil Ketua Dewan Keamanan Nasional Rusia, Dmitry Medvedev. Ia secara terbuka mengkritik Presiden Donald Trump atas keputusan menyerang Iran.
Mengutip Reuters, Medvedev mempertanyakan konsistensi Washington yang sebelumnya membuka ruang dialog dengan Teheran.
“‘Penjaga perdamaian’ itu berulah lagi. Pembicaraan dengan Iran hanyalah kedok. Semua orang tahu itu,” ujar Medvedev.
Ia bahkan membandingkan usia Amerika Serikat dengan panjangnya sejarah peradaban Persia.
“Jadi siapa yang lebih sabar sekarang untuk menunggu akhir yang menyedihkan bagi musuh? AS baru berusia 249 tahun. Kekaisaran Persia didirikan lebih dari 2500 tahun yang lalu. Mari kita lihat apa yang terjadi dalam 100 tahun atau lebih,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan nada sindiran sekaligus pesan geopolitik bahwa Iran memiliki akar sejarah panjang dan daya tahan yang kuat.
Risiko Konflik Meluas
Reaksi keras Rusia memperlihatkan bahwa konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung. Sebagai sekutu Teheran, Moskow memiliki kepentingan strategis di kawasan Timur Tengah.
Dengan meningkatnya ketegangan dan klaim tewasnya Khamenei, situasi regional berada dalam kondisi rapuh. Peringatan Rusia mengenai potensi “bencana kemanusiaan, ekonomi, dan mungkin radiologis” menjadi sinyal eskalasi berikutnya bisa jauh lebih luas dari sekadar serangan terbatas.





























