Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Drs KH Ahmad Zubaidi MA, memberikan pembekalan materi Islam wasathiyah kepada peserta Pendidikan Kader Dai (PKD) yang digelar Dompet Dhuafa, awal Juni 2022, di Lapas Khusus Kelas II A Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. (Foto: LPM DD)

ZNEWS.ID BOGOR – Kegiatan Pendidikan Kader Dai (PKD) yang digelar oleh Dompet Dhuafa telah menginjak pertemuan ke-9 di awal Juni 2022 di Lapas Khusus Kelas II A Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan ini diharapkan dapat mencetak dai-dai dari warga Lapas yang berkualitas. Sehingga, ketika mereka kembali ke dalam lingkungan masyarakat, mereka memiliki bekal dan siap untuk bergabung kembali. Serta, membawa manfaat bagi lingkungannya.

Kegiatan pendidikan diisi oleh Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, yaitu Drs KH Ahmad Zubaidi MA. Beliau memberikan nasihat amar makruf dan pesan untuk para calon dai mengenai pentingnya mengetahui karakteristik Islam Wasathiyah di zaman modern ini.

“Amar makruf itu harus dengan cara yang makruf (baik). Dan, hendaknya para calon dai ini mengerti betul mengenai pedoman Islam Wasathiyah, agar nantinya dapat mudah diterima di masyarakat dengan baik,” ujar Ahmad Zubaidi dengan nada lembut dan penuh harapan.

Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Drs KH Ahmad Zubaidi MA, memberikan pembekalan materi Islam wasathiyah kepada peserta Pendidikan Kader Dai (PKD) yang digelar Dompet Dhuafa, awal Juni 2022, di Lapas Khusus Kelas II A Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. (Foto: LPM DD)

SL (36) salah seorang peserta PKD, memberikan pertanyaan terkait aktivitasnya menjalani Pendidikan Kader Dai di Lapas Gunung Sindur ini.

“Apakah kami setelah selesai mendapat pendidikan dai ini bisa diwadahi oleh MUI?” tanya SL (36) yang sudah menghafal Juz Amma dan beberapa hadis selama PKD berlangsung.

Pertanyaan pun dijawab dengan beberapa pesan dan nasihat oleh KH Zubaidi. Para calon dai, kata kiai, harus terus menambah ilmu. Minimal menguasai zikir, tahlil, dan doa di setiap acara tahlilan di masyarakat.

“Mengenai sertifikasi dai yang kami kelola memang memiliki karakteristik yang cukup tinggi. Jadi, belum bisa memfasilitasi secara khusus. Namun, perlu ditambah terus ngajinya, ibadahnya, dan paling minimal teman-teman bisa mimpin tahlil di lingkungan masyarakatnya kelak.” Pesan KH Zubaidi untuk para peserta PKD di sesi akhir pertemuan.

Oleh: Adi

LEAVE A REPLY