Oleh: Irfa Ramadhani (KAWAN SLI Kulon Progo)

ZNEWS.ID KULON PROGO – SDN 1 Sentolo menjadi tuan rumah acara Launching dan Studium General program Sekolah Literasi Indonesia, beberapa waktu lalu. Belum lepas dari ingatan, siang itu, 31 siswa/i dari tim karawitan membahana di siang hari. Ternyata, mereka tengah menampilkan karyanya dalam rangka menyambut kedatangan para tamu undangan.

Hadir pada acara itu, pimpinan cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta beserta tim, 2 Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI), pihak Disdikpora Kulon Progo yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan SD Suharyono, serta Kemenag Kulon Progo yang diwakili kepala Pendidikan Madrasah Sulasmi.

Hadir pula Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jumarin, perwakilan perspustakaan daerah Nur, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak Woro, pengawas SD maupun MI, 10 kepala sekolah/madrasah, dan 20 perwakilan guru dari 10 sekolah/madrasah kecamatan Wates, Sentolo, dan Pengasih.

Setelah pentas dari tim karawitan tuan rumah, prosesi penyambutan tamu dilanjutkan oleh 3 siswa MI Muh Kenteng. Mereka menampilkan beladiri tapak suci, lengkap dengan properti senjata tajamnya. Penampilan ketiga dari 6 siswi SDN 2 Sentolo yang menampilkan tari topi. Selanjutnya, acara dibuka oleh tilawah dari siswi MI Muh Serangrejo.

Di samping itu, beberapa kepala sekolah/madrasah juga terlibat sebagai petugas acara. Imma dari MIN 2 Kulon Progo bersama Endah dari SDN 1 Sentolo sebagai MC, Harni dari SDN Giripeni sebagai dirigen, serta Rujito dari MI Muh Kenteng mengisi doa.

“Merinding melihat semuanya tergerak untuk menyukseskan acara. Padahal, kami baru saja dipertemukan dalam satu keluarga baru, Sekolah Literasi Indonesia,” ungkap Wahyu, salah satu KAWAN SLI.

Acara yang diisi sambutan pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta, Kabid Pembinaan SD Disdikpora, dan Kabid Dikmad Kemenag ini merupakan acara Launching program SLI. Launching tersebut ditandai dengan simbolisasi penandatangan MoU di antara ketiganya. Dan, penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama oleh 10 sekolah/madrasah terpilih. Sepuluh sekolah/madrasah yang hadir pada acara launching ini sebelumnya melalui serangkaian tahapan seleksi.

Pada sambutannya, Kabid Pembinaan SD Disdikpora Kulon Progo berpesan bahwa kondisi sekolah tentu berbeda-beda. Oleh karena itu ia meminta agar proses pendampingan itu sampai tujuan, bisa mencapai sasaran.

“Karena, ini ada perbedaan usia. Tim Dompet Dhuafa ini dalam segi kreativitas, tenaga, fikiran, mungkin lebih enerjik daripada Ibu Bapak Kepala Sekolah. Suasananya kan, nanti ini antara ibu dan anak, bapak dan anak, nggeh boten? Laiya, nek bapak dan anak itu, nanti nek mlayu yo, ojo kebanteren,” ujarnya.

Penyampaian pesan dari Kabid Pembinaan SD tersebut disambut tawa para kepala sekolah/madrasah, guru-guru beserta tamu undangan yang hadir lainnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan dan Madrasah sebagai perwakilan Kemenag menyampaikan apresiasi terhadap program dampingan SLI. Ia juga menyampaikan harapannya agar lebih banyak madrasah yang dapat terdampingi program SLI di kemudian hari.

Setelah berakhir acara launching, sepuluh kepala sekolah/madrasah, beserta tim guru melanjutkan studium general membahas detail alur dan time line pendampingan intensif program SLI. Forum tersebut dipandu dua KAWAN SLI Kulon Progo, Wahyu dan Irfa.

Selanjutnya, mereka akan melalui 3 bulan masa inkubasi untuk mengikuti pelatihan/pembinaan/diskusi bersama berdasarkan kurikulum SLI yang diadakan minimal satu minggu sekali. Kemudian, dua bulan selanjutnya, para kepala sekolah/madrasah dan guru model melakukan implementasi dari materi-materi yang telah diperoleh (dengan dampingan KAWAN SLI).

“Kami optimis program SLI akan terus berjalan lancar. Hal ini mengingat semangat luar biasa dari 10 sekolah/madrasah dampingan, serta atas keberlimpahan dukungan dari berbagai stakeholder lainnya. InsyaAllah,” terang Wahyu, KAWAN SLI Kulon Progo. (makmalpendidikan.net)

LEAVE A REPLY