Ilustrasi. (Foto: etahfizh.org)

ZNEWS.ID JAKARTA – Secara formal, Al-Qur’an telah diimani dan disepakati sebagai kitab yang terlengkap dan berlaku sepanjang masa. Namun, faktanya Al-Qur’an sudah diabaikan sebagai solusi dalam menyelasaikan permasalahan umat.

Padahal, jika Al-Qur’an menjadi pegangan utama, tentu tidak ada lagi yang namanya krisis moral. Jika kita membeli sepeda motor, tentu kita akan mendapat buku panduan untuk menjalankan sepeda motor tersebut agar aman dalam berkendara.

Begitu juga Allah SWT sudah memberikan manusia kaidah-kaidah atau petunjuk, yang mana petunjuk ini berguna untuk mengarungi segala masalah yang dihadapi hamba-hamba-Nya. Petunjuk itu adalah Al-Qur’an.

Dengan Al-Qur’an, semuanya akan menjadi baik. Hal ini seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an surah al-Isra ayat 9. Lalu, mengapa muncul kejahatan dan kerusakan?

Awalnya, manusia dilahirkan dengan kondisi suci atau sudah membawa potensi keimanan. Kemudian, orang tuanyalah yang mengubahnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Pengaruh orang tua di sini memberi pengertian kepada kita bahwa ada pengaruh lingkungan untuk membentuk karakter seorang anak. Begitu juga di era milenial yang sangat rentan ini, sudah seharusnya kita sebagai anak atau bahkan sebagai calon orang tua selalu berusaha menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.

Jangankan berusaha menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an, mendengarkannya pun sudah memberi pengaruh yang amat besar bagi manusia. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Dr Ahmad al-Qadhi.

LEAVE A REPLY