Paket sembako sebanyak 200 dus dikirim oleh DDV untuk mereka yang terkena dampak PHK di Tangerang, Banten, pada Selasa (28/7/2020). (Foto: dompetdhuafa.org)

ZNEWS.ID TANGERANG – Pandemi Corona belum juga sirna. Dampak yang ditimbulkan pun masih sangat terasa. Terutama bagi mereka, para buruh yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Dikenal sebagai Kota Seribu Industri, Tangerang menjadi salah satu wilayah yang banyak melakukan PHK. Akibatnya, belasan ribu pekerja kini menjadi pengangguran.

Melihat fenomena tersebut, jiwa kemanusiaan memacu relawan Dompet Dhuafa (DD Volunteer), yang mayoritas berisi anak-anak muda. Mereka bergerak mengumpulkan dana dari para donatur melalui platform donasi kitabisa.com.

Paket sembako sebanyak 200 dus dikirim oleh DDV untuk mereka yang terkena dampak PHK di Tangerang, Banten, pada Selasa (28/7/2020).

Sejak Sabtu (25/7/2020) lalu bantuan paket sembako sudah mulai distribusikan. (Foto: dompetdhuafa.org)

“Program ini menyasar masyarakat terdampak PHK yang berada di Jabodetabek. Alhamdulillah, sejak Sabtu (25/7/2020) lalu, sudah mulai kami distribusikan. Untuk yang di Tangerang ini, kami kirimkan 200 paket,” kata Fajar Firmansyah, Koordinator DDV.l

Guna memudahkan pendistribusian, DDV berkoordinasi dengan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) cabang Tangerang untuk pendataan penerima manfaat serta penyalurannya.

Paket sembako diturunkan di sekretariat GSBI Tangerang. Selanjutnya, rekan-rekan GSBI yang melakukan penyaluran.

DDV berkoordinasi dengan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) cabang Tangerang untuk pendataan penerima manfaat serta penyalurannya. (Foto: dompetdhuafa.org)

Menurut Sekretaris DPC GSBI Tangerang, Kokom Komala Wati, terbanyak dan paling besar dampak PHK buruh di Tangerang adalah tiga perusahaan alas kaki dan garmen. Karena itu, ke-200 penerima manfaat program ini ditujukan kepada buruh dari tiga perusahaan tersebut.

“Yang paling terdampak memang di sektor garmen dan sepatu. Paling besar, ya, tiga perusahaan ini. Ada yang di PHK malah sejak 8 bulan lalu. Karena, di tempat ekspor-nya, di Wuhan, sudah terpapar Covid-19. Jadinya, di sini juga ikutan terdampak,” katanya.

Menurut Kokom, PHK adalah kejahatan kemanusiaan. Pasalnya, dampaknya merembet ke mana-mana. Termasuk anak dan keluarganya. Belum lagi, iuran BPJS yang kemudian diputus.

DDV berkoordinasi dengan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) cabang Tangerang untuk pendataan penerima manfaat serta penyalurannya. (Foto: dompetdhuafa.org)

“Saya bilang PHK kejahatan kemanusiaan. Karena ketika PHK, BPJS di-stop, dampaknya ke anaknya, keluarganya. Terus, segala prosesnya ditanggungkan. Kita tidak dapat akses kesehatan dari BPJS yang ditangguhkan,” ujarnya.

GSBI, kata Kokom, dengan berbagai cara mencari solusi guna membantu mencarikan akses untuk kesehatan para buruh yang terkena PHK tersebut.

Salah satu buruh yang terkena dampak PHK adalah Aman (49). Pria asal Serpong ini sudah 32 tahun menjadi buruh di perusahaan garmen di salah satu dari ketiga perusahaan di atas.

Bantuan disalurkan kepada buruh tiga perusahaan yang paling banyak terkena dampak PHK buruh di Tangerang, yakni perusahaan alas kaki dan garmen. (Foto: dompetdhuafa.org)

Aman turut menjadi korban PHK massal perusahaan tempatnya bekerja karena terkena dampak Corona. Kini, ia hanya beraktivitas di rumah saja. Padahal, ia harus menghidupi istri dan dua anaknya.

“Dari muda saya, Dik, 32 tahun kerja buruh di sana. Terus di-PHK gitu saja. Mau nyari kerjaan lagi juga susah,” keluhnya.

Sebelum tim DDV berpamitan, Kokom mengungkapkan syukur dan senang atas kepedulian DDV kepada buruh-buruh yang terdampak. Bukan hanya atas bantuan yang diberikan, namun juga rasa kagum kepada anak-anak DDV yang ternyata masih muda-muda.

“Saya senang, ternyata anak-anak muda semua ini yang bergerak. Tentu ini akan sangat membantu dan bermanfaat bagi kami,” tuturnya.

Oleh: Muthohar
Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY