Oleh: Dr H Muhajir, SPdI MSI (Dai Ambassador DD dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

ZNEWS.ID JAKARTA – Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, setiap mukmin berpuasa dianjurkan untuk semakin konsentrasi dalam beribadah. Demikian salah satu pesan Nabi Muhammad dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari Aisyah RA berkata:

“Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah”.

Ibarat orang ikut lomba lari marathon, semakin mendekati garis finis, maka dia akan semakin kencang dalam berlari, seluruh tenaganya dikeluarkan untuk mencapai garis penghabisan bahkan berazam menjadi sang pemenang.

Begitu juga seyogianya, bagi mukmin berpuasa harus mengencangkan ikat tali, mengatur ritme napas dan berazam untuk fakus beribadah di malam-malam terakhir bulan Ramadan terlebih malam ganjil.

Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa di sepuluh hari terakhir ini, Allah menjanjikan kebaikan yang kebaikan tersebut nilainya tak terhingga yaitu malam lailatul qadar. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Qadr: 3, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.

Disebut malam lailatul qadar paling tidak memiliki dua makna; Pertama, menurut Ali Asshabuny dinamakan malam lailatul qadar karena kemuliaan malam tersebut mengalahkan kemulian malam, hari dan bulan yang lain.

Di malam tersebut, Allah tunjukkan keagungan, kesucian dan kelembutan-Nya sebagai tanda bukti kemuliaan turunnya Alquran. Sebagaimana ungakapan orang Arab fulan dzu qadrin ‘adzim (fulan punya kemuliaan nan agung).

Kedua, lailatul qadar bermakna ketetapan (taqdir) di mana pada malam tersebut Allah menurunkan ketetapan-Nya tentang kehidupan, kematian, dan rezeki. Pendapat yang kedua ini merujuk pada firman Allah dalam surah al-Dukhan: 3-4, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) pada suatu malam yang diberkahi. Dan, sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”.

Salam Damai Malam Lailatul Qadar

Selain malam kemuliaan, lailatul qadar juga membawa misi malam perdamaian (salam), di mana ayat ke lima dari surah al-Qadr tersebut diakhiri dengan kata salamun yang berarti keselamatan, perdamaian, dan ketentraman.

Pesan perdamaian ini menjadi isyarat bahwa untuk mendapatkan malam lailatul qadar meskipun bersifat privasi akan tetapi dampak dari kemuliaan malam tersebut harus bisa dirasakan oleh banyak orang, yaitu menciptakan perdamaian dan keselamatan.

Menurut al-Sa’dy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata salam berarti keselamatan dari setiap kejahatan dan mara bahaya yang demikian itu dikarenakan melimpahnya kebaikan dan kedamaian.

Keselamatan dan perdaiaman yang dimaksud pada penutup surat al-Qadr tersebut tentu tidak saja hanya berlaku pada saat malam lailatul qadar. Lebih dari itu, pesan perdamaian tersebut harusnya mengikat pada setiap diri seorang muslim untuk selalu menebar perdaiaman dan keselamatan bagi orang-orang disekitarnya.

Selain itu, makna dan fungsi malam lailatul qadar juga terletak sejauh mana seseorang yang ingin mendapatkan kebaikan malam tersebut terus menerus menyampaikan pesan damai, dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman.

Sebagaimana karakter mukmin sejati adalah membuat orang lain merasa aman dari ancaman kejahatan lisan dan perbuatannya, demikian Nabi Muhammad menyabdakannya.

Pesan damai di malam lailatul qadar menjadi sangat urgen untuk ditransformasikan mengingat saat ini muslim, khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya, sedang bersama-sama menghadapi wabah pandemi Covid-19.

Bencana Corona telah dan mungkin akan berdampak pada setiap sisi kehidupan manusia tidak terlewatkan sisi ekonomi. Kegiatan ekonomi menjadi lesu, penghasilan masyarakat berkurang, bahkan tidak sedikit yang kehilangan sumber-sumber ekonominya.

Jika kondisi demikian tidak disikapi dengan saling menebar kedamaian, maka yang terjadi adalah saling curiga antarsatu orang dengan lainnya, dan pada akhirnya akan terjadi tindak destruktif.

Tindak destruktif alasana dan atas nama apapun tentu sangat bertentangan dengan spirit salamun dalam surah al-Qadr tersebut. Salam para Malaikat kepada para pencari malam lailatul qadar tidak akan memiki makna ta’abudi jika tidak dibarengi dengan beberapa hal berikut ini.

Pertama, komitmen untuk selalu menebarkan perdamaian sebagaimana hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari, “…maukah kamu kutunjukkan sesuatu, apabila kamu lakukan akan saling mencintai? Tebarkanlah salam (perdamaian) di antara kamu…”.

Dalam surah an-Nisa: 86 Allah berfirman, ”…apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas segala sesuatu”.

Kehidupan yang damai adalah kehidupan yang saling mencintai antaranak bangsa, menghormati hak masing-masing tanpa menegasikan yang lain dan menjaga spirit kebersamaan dalam perbedaan serta munculnya kesadaran untuk saling berbagi terlebih dalam suasana pagebluk akibat Corona seperti sekarang ini.

Kedua, memahami pesan sentral Alquran yaitu perdamaian. Terdapat korelasi simbolik antara surah al-Qadr yang menjelaskan tentang turunnya Alquran dengan perdamaian. Alquran adalah sumber perdaiaman, jalan menuju keselamatan dan ketentraman, serta puncak dari kebijaksanaan.

Maka, sungguh sangat ironis tatkala segelintir orang membuat ulah ketidaknyamanan di tengah-tengah masyarakat yang bertentangan dengan pesan sentral Alquran tersebut (perdamaian). Kata salam di dalam Alquran terulang sebanyak 146 kali, yang mayoritas kata tersebut bermakna anjuran untuk menebarkan perdamaian.

Ketiga, anjuran untuk selalu berdoa mendapatkan keselamatan dan perdamaina. Hal tersebut sebagaimana kebiasaan Nabi Muhammad setelah selesai mengerjakan salat fardu selalu membaca doa, “Allahumma antassalam, wa minkassalam, wa ilaika ya ‘udussalam, fahayyina rabbana bissalam, wa adkhilna jannata daarassalam”

Malam lailatul qadar adalah malam turunnya malaikat untuk menebar kedamaian dan mendoakan manusia agar berlimpah ruah karunia di atas bumi Allah ini. Maka, tugas manusia selanjutnya berbagi atas kelimpahan karunia tersebut kepada sesama dan menebarkan rasa damai di antara sesamanya sebagai ciri dia mendapatkan keberkahan di malam lailatul qadar.

LEAVE A REPLY