Ilustrasi: Seorang pria menggendong seorang anak yang tidak sadarkan diri di Gaza. (Foto: ANTARA/AA)

ZNEWS.ID GAZA – Jumlah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel di lokasi distribusi bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza terus bertambah.

Hingga Minggu (20/7/2025), Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat sebanyak 995 orang meninggal dunia sejak 27 Mei 2025. Selain itu, tercatat pula 6.011 orang terluka dan 45 orang masih dinyatakan hilang.

Pusat-pusat distribusi bantuan yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza kini dijuluki sebagai “jebakan maut” oleh otoritas setempat karena berulang kali menjadi sasaran serangan ketika warga sedang mengantre bantuan.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mengingatkan bahwa angka kematian kemungkinan besar akan terus meningkat karena kondisi kekurangan gizi yang parah dan minimnya akses layanan medis. Mereka melaporkan bahwa sekitar 60.000 bayi mengalami malnutrisi, 600.000 anak di bawah usia 10 tahun terancam kelaparan, dan 60.000 ibu hamil tidak mendapat asupan gizi yang memadai.

Dalam laporan sebelumnya pada bulan Juni, surat kabar Israel Haaretz mengutip pengakuan beberapa tentara Israel secara anonim yang menyatakan bahwa mereka diperintahkan untuk menembak warga Palestina tak bersenjata yang berada di sekitar lokasi pembagian bantuan. Perintah ini disebut berlangsung selama sebulan terakhir.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant membantah keras tuduhan tersebut.

Israel juga diketahui menolak bekerja sama dengan UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina. Sejak akhir Oktober 2024, parlemen Israel telah mengesahkan undang-undang yang melarang aktivitas UNRWA di wilayah Israel dan daerah pendudukannya. Langkah ini diambil setelah tuduhan bahwa sejumlah staf UNRWA terlibat dalam serangan Hamas pada Oktober 2023, meskipun hingga kini PBB menyatakan Israel belum memberikan bukti yang sahih.

Undang-undang pelarangan aktivitas UNRWA resmi diberlakukan pada 30 Januari 2025. Sebagai gantinya, Israel bersama Yayasan Kemanusiaan Gaza yang mendapat dukungan dari Amerika Serikat membuka beberapa pusat distribusi bantuan di wilayah selatan Jalur Gaza.

Namun, pada 20 Mei 2025, Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, menuduh Israel menyalahgunakan distribusi bantuan sebagai alat untuk memaksa warga Palestina meninggalkan wilayah mereka.

LEAVE A REPLY