Oleh: M. Fuad Nasar (Kepala Biro pada UIN Imam Bonjol Padang)
ZNEWS.ID JAKARTA – Salah seorang tokoh bangsa Andi Mappetahang Fatwa, mantan Wakil Ketua DPR-RI dan MPR-RI atau akrab dipanggil AM Fatwa, semasa hidupnya bercerita pengalamannya ketika bersilaturahmi di kediaman sastrawan Pramoedya Ananta Toer di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur.
Pram baru saja bebas dari tahanan politik di Pulau Buru yang selama 14 tahun dijalaninya sejak meletusnya peristiwa G.30.S/PKI. AM Fatwa datang untuk bertukar pikiran dengan Pram. Ia dijamu makan buka puasa dan disediakan sajadah untuk salat Magrib. Pram ketika diajak diskusi soal agama mengaku rasanya terlalu mewah buatnya bicara soal agama dan akhirat.
“Saya merasa ada beberapa perbedaan dengan dia soal pandangan hidup, filosofi, tapi tentu saya menghormati dia sebagai seorang penulis,” tutur putra Bugis itu yang dikenal bersikap kritis terhadap otoritarianisme Orde Baru.
Kisah lainnya, suatu hari seorang pemuda dan gadis datang ke rumah Buya Prof Dr Hamka di Jalan Raden Patah III/1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Salah satunya memperkenalkan diri anak Pramoedya Ananta Toer.
“Oh, anak Pram, apa kabar bapakmu sekarang? tanya Buya dengan ramah. “Sudah bebas, Buya.” Jawab anak itu. Buya Hamka memuji karya-karya Pram seperti Keluarga Gerilya, Subuh, dan lain-lain.
Saat itu, anak Pram meminta bantuan Buya Hamka nantinya untuk membimbing pengucapan dua kalimat syahadat pemuda yang akan menikahinya. Ketika mau pamit, Buya Hamka titip salam untuk Pramoedya Ananta Toer.
Anak itu menangis, mungkin dia tak menyangka akan diterima dengan sangat baik oleh seorang ulama yang dahulu pernah dibenci dan difitnah oleh ayahnya semasa rezim kelam Orde Lama.
Cerminan keteladanan lainnya dari Buya Hamka ialah kesediaannya memenuhi permintaan Presiden Soeharto untuk mengimami salat jenazah Bung Karno yang meninggal dunia tahun 1970.
Ulama besar itu sama sekali tidak menaruh dendam pribadi maupun dendam politik. Dia memaafkan siapa saja yang pernah menyakitinya di masa lampau.
Suatu kemunduran dalam budaya bangsa kita seandainya sebagian orang menjauhi atau menjauhkan sebagian yang lain karena tidak sepaham, tidak satu mazhab atau berbeda keyakinan agama. Perbedaan dalam politik kadang menciptakan permusuhan pribadi.
Mencari titik persamaan di antara perbedaan menjadi keniscayaan dalam merawat persatuan bangsa. Dalam hubungan kemanusiaan, kesediaan memahami, bertukar pikiran dengan orang atau kelompok lain yang berbeda atau tidak sejalan adalah cermin kematangan kualitas pemimpin dan manusia terpelajar.
Para pemimpin kita di masa lampau tidak selalu sependapat dalam segala hal, tetapi perbedaan pendapat tidak memecah persatuan. Perbedaan pendapat pernah terjadi antara Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Presiden Soekarno saat menghadapi Agresi Militer II yang dilancarkan Belanda tahun 1948.
Pak Dirman menghendaki Presiden Soekarno menepati janjinya untuk memimpin perjuangan gerilya melawan invasi tentara Belanda, tetapi Bung Karno atas pertimbangan lain memilih tetap tinggal di dalam Kota Yogyakarta, meski akhirnya ditangkap Belanda dan diasingkan ke Pulau Bangka.
Pak Dirman dengan rasa sedikit kecewa memimpin perang gerilya meski dalam kondisi sakit dengan parunya yang tinggal satu dan dipikul dengan tandu.
Dalam peristiwa Kembali ke Yogyayakarta dan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatraa Barat di bawah pimpinan Mr Sjafruddin Prawiranegara mengembalikan mandat kepada Presiden dan Wakil Presiden setelah persetujuan Roem-Van Royen yang hasilnya kurang memuaskan, para pemimpin republik tetap bersatu dan tidak tercerai-berai.
Dalam hati dan tindakan para pemimpin kita waktu itu tetap menyala kesetiaan terhadap cita-cita proklamasi dan tanggungjawab pada persatuan demi bangsa, negara dan rakyat Indonesia.
Perbedaan pendapat dan pertentangan politik setajam apa pun tidak boleh menimbulkan permusuhan pribadi dan saling menjauhi. Satu musuh sudah terlalu banyak, seratus kawan terlalu sedikit.
“Persahabatan ditempatkan di atas politik,” kata aktivis Agus Lenon semasa hidupnya. Seorang demokrat sejati kata-katanya selalu dapat diukur dengan perbuatan dan memegang prinsip; meski saya tidak setuju dengan pendapat saudara, akan tetapi hak saudara untuk berpendapat akan saya bela dan jangan pernah kehilangan objektivitas meskipun terhadap mereka yang tidak kita sukai.
Tokoh reformasi AM Fatwa yang diceritakan di awal tulisan ini pernah melakukan perlawanan politik terhadap pemerintahan Orde Baru, namun ketika mantan Presiden Soeharto sakit dan dirawat di rumah sakit, beberapa kali datang menjenguk dan bahkan ikut mengantar jenazah Pak Harto ke pemakaman di Astana Giri Bangun.
Keterbelahan bangsa bisa timbul akibat sikap membentur-benturkan perbedaan hingga energi negatif menguasai pikiran orang banyak. Ada anggapan dalam politik tak ada kawan abadi tak ada lawan abadi, yang abadi adalah kepentingan. Sebetulnya politik itu harus bermartabat. Dalam politik dibutuhkan moral dan akhlak yang bersumber dari hati yang bersih.
Bangsa Indonesia ditakdirkan terdiri dari beragam ras, suku, etnis, agama, dan golongan. Insya allah bangsa kita akan tetap utuh jika segenap elemen bangsa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Wallahu a’lam bisshawab.
Sumber: Kemenag

























