
ZNEWS.ID GUNUNGKIDUL – Tarkiyem tinggal seorang diri di rumahnya. Keheningan menemani hari-harinya lebih dekat dari siapapun dan apapun. Bila ada yang lebih akrab dengannya daripada itu semua, adalah krisis air yang terus melanda Gunungkidul, tempat di mana ia lahir dan hidup di masa tuanya.
Warga Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu bercerita bagaimana kampung halamannya selalu dilanda kekeringan saat musim kemarau.
Kekeringan sudah menjadi hal biasa bagi warga Desa Jurangjero. Kini, kemarau itu hadir lebih awal dan panjang. Membuat kesulitan itu seperti derita tanpa ujung.
“Saya lupa kapan terakhir di sini hujan. Sudah berbulan-bulan (tidak ada hujan),” ucap Tarkiyem.
Tidak seberuntung orang lain, ia tidak memiliki saluran air PDAM (meski di desa ini air dari PDAM seringkali tersendat dan tak banyak membantu) yang bisa masuk ke dalam rumahnya.
Kamar mandi di rumahnya tidak ada keran air. Ia hanya mengandalkan sumur galian yang ada di belakang rumahnya. Namun, kini sumur itu tidak lagi mengeluarkan air.
Fungsinya sekarang hanya untuk menadah air hujan yang turun. Air dari sumur itu pun ia gunakan untuk menyiram tanaman sayur yang ditanam di lahan kecilnya di belakang rumah.
“Untuk saya kasih ke ayam-ayam saya saja tidak. Takut sakit. Soalnya airnya kotor,” kata tarkiyem.



























