JAKARTA, ZNEWS.id – Eskalasi saling serang antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran tidak hanya meningkatkan korban jiwa dan ketegangan militer di lapangan, tetapi juga mulai memicu dampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan politik global.
Gelombang serangan balasan yang menyasar fasilitas strategis dan jalur logistik utama kawasan Teluk kini menimbulkan kekhawatiran akan krisis energi dan gangguan rantai pasok internasional.
Dampak perang turut mengguncang sektor energi global. Beberapa fasilitas minyak di kawasan Teluk dilaporkan diserang, termasuk kilang utama di Arab Saudi dan fasilitas energi di Qatar. Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup untuk navigasi internasional, sebuah jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Penutupan ini langsung memicu lonjakan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam 52 minggu terakhir.
Gangguan keamanan juga berdampak besar pada sektor penerbangan. Lebih dari 3.400 penerbangan dilaporkan dibatalkan di kawasan Timur Tengah, dengan sekitar 300 ribu penumpang terlantar akibat penutupan wilayah udara dan meningkatnya risiko keselamatan penerbangan sipil.
Di Amerika Serikat, dampak konflik merembet ke ranah politik domestik. Kongres dijadwalkan melakukan pemungutan suara terhadap War Powers Resolution yang bertujuan membatasi kewenangan presiden dalam melanjutkan operasi militer tanpa persetujuan legislatif.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat menyatakan tidak ada ancaman langsung dari Iran yang dapat membenarkan keterlibatan militer skala besar, sehingga menilai keputusan perang perlu ditinjau ulang secara konstitusional.
Sementara itu, China menyatakan mendukung hak Iran untuk mempertahankan kedaulatan dan menyerukan penghentian segera operasi militer guna mencegah konflik meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.
Sikap Beijing menambah dimensi geopolitik baru dalam konflik yang berpotensi menyeret lebih banyak kekuatan global.
Presiden Donald Trump mengindikasikan operasi militer dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. Setelah sebelumnya menyebut konflik akan berlangsung “beberapa hari,” ia kini menyatakan kemungkinan perang berjalan hingga beberapa minggu.
Dengan ketegangan yang terus meningkat dan serangan balasan yang belum menunjukkan tanda mereda, situasi kawasan dinilai sangat dinamis dengan kekhawatiran eskalasi lebih luas yang dapat melibatkan lebih banyak negara dan memperburuk stabilitas global, khususnya di sektor energi dan keamanan internasional.























