JAKARTA, ZNEWS.id – Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memicu proses suksesi kepemimpinan tertinggi di Republik Islam, dengan sejumlah tokoh ulama dan pejabat senior disebut sebagai kandidat potensial penggantinya.
Menurut sistem politik Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang bertugas menunjuk pemimpin baru saat posisi tersebut kosong.
Sejumlah nama yang kini banyak disebut dalam pembahasan suksesi antara lain:
Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, yang dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkar elite kekuasaan dan Garda Revolusi Iran (IRGC). Namun, kemungkinan suksesi dinasti dinilai sensitif secara politik di Iran.
Alireza Arafi, ulama senior berusia 67 tahun yang menjabat wakil ketua Majelis Ahli dan anggota Dewan Garda. Ia juga ditunjuk sebagai anggota dewan kepemimpinan sementara yang menjalankan tugas pemimpin tertinggi hingga pengganti resmi dipilih.
Mohammad Mehdi Mirbagheri, ulama garis keras dan anggota Majelis Ahli, dikenal memiliki pandangan ideologis kuat serta kritis terhadap Barat.
Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, kepala lembaga kehakiman Iran yang sebelumnya diangkat langsung oleh Khamenei. Ia dianggap figur konservatif yang dekat dengan struktur kekuasaan inti negara.
Selain itu, nama Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini, juga kerap disebut dalam diskursus suksesi. Ia dikenal memiliki pandangan lebih moderat, meski tidak memegang jabatan publik penting dan pernah didiskualifikasi dari Majelis Ahli.
Dilansir Al Jazeera, sementara proses pemilihan berlangsung, konstitusi Iran mengatur bahwa kekuasaan sementara dipegang oleh dewan tiga orang yang terdiri dari presiden, kepala kehakiman, dan seorang ulama dari Dewan Garda hingga pemimpin tertinggi baru resmi ditetapkan.

























