Jakarta, ZNews.id — Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (30/1/2026) setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya. Sentimen investor tertekan oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter ke depan, di tengah data inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 179,09 poin atau 0,36% ke level 48.892,47. Tekanan serupa juga terlihat pada indeks berbasis luas, S&P 500, yang terkoreksi 29,98 poin atau 0,43% menjadi 6.939,03. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat penurunan paling dalam, merosot 223,30 poin atau 0,94% ke posisi 23.461,82.
Meski melemah pada penutupan akhir pekan, kinerja bursa AS secara mingguan masih menunjukkan pergerakan yang beragam. Sepanjang pekan ini, S&P 500 membukukan kenaikan tipis 0,3%, menjadi penguatan pertama setelah dua pekan berturut-turut melemah. Sebaliknya, Dow Jones turun 0,4% dan Nasdaq terkoreksi 0,2% dalam periode yang sama.
Secara bulanan, pasar saham AS masih mencatatkan penguatan. S&P 500 naik 1,4%, Dow Jones menguat 1,7%, dan Nasdaq bertambah 0,9% sepanjang Januari 2026.
Sorotan pada Calon Ketua The Fed
Kevin Warsh, yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur The Fed, dikenal sebagai sosok yang kerap melontarkan kritik terhadap kebijakan bank sentral AS. Ia dipandang cenderung mendukung suku bunga yang lebih rendah, namun dinilai tidak akan mendorong pelonggaran moneter secara agresif seperti sejumlah kandidat lain yang sempat disebut-sebut.
Jika memperoleh persetujuan Senat AS, Warsh akan menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed ketika masa jabatan Powell berakhir pada Mei 2026.
Trump menegaskan, tidak tepat untuk menanyakan langsung kepada Warsh mengenai arah kebijakan suku bunga. Namun, ia menyampaikan keyakinannya bahwa Warsh memiliki kecenderungan untuk menurunkan biaya pinjaman.
Data Inflasi Tambah Tekanan Pasar
Selain faktor pergantian kepemimpinan The Fed, sentimen pasar juga tertekan oleh rilis data ekonomi terbaru. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) untuk permintaan akhir tercatat melonjak 0,5% pada bulan lalu, melampaui ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan 0,2%. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada bulan sebelumnya.
Kenaikan PPI ini memperkuat indikasi bahwa dunia usaha mulai meneruskan beban biaya yang lebih tinggi, termasuk dampak dari tarif impor, kepada konsumen. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar bahwa tekanan inflasi masih berpotensi bertahan.
Di sisi lain, investor juga terus mencermati laporan keuangan emiten besar. Saham Apple justru ditutup menguat 0,43% setelah produsen iPhone tersebut merilis kinerja kuartalan yang dinilai solid oleh pelaku pasar.
Ketidakpastian Arah Kebijakan Jadi Sorotan
Pelaku pasar menilai penunjukan calon Ketua The Fed baru menambah lapisan ketidakpastian di tengah dinamika ekonomi AS.
“Sebagian kecemasan ini muncul karena adanya ketidakpastian. Ada calon Ketua The Fed baru, kemungkinan prioritas baru, dan mungkin arah kebijakan moneter yang berbeda. Elemen ketidakpastian itulah yang membuat pasar gelisah,” ujar Kepala Strategi Ekuitas U.S. Bank Asset Management, Terry Sandven, di Minneapolis.
Namun, ia menambahkan, pencalonan Warsh sebenarnya sudah cukup lama diperkirakan pasar, mengingat namanya termasuk dalam daftar pendek kandidat Ketua The Fed.





























