Jakarta, ZNews.id – Presiden Donald Trump kembali memicu polemik internasional setelah secara terbuka menyatakan keinginannya agar Greenland menjadi bagian dari Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan Trump dengan dalih kepentingan keamanan nasional, menyusul meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik.
“Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Wilayah itu sangat strategis,” kata Trump kepada wartawan. Ia bahkan menyinggung kehadiran kapal-kapal Rusia dan China di sekitar pulau tersebut sebagai ancaman langsung bagi Amerika Serikat.
Pernyataan ini langsung menuai reaksi keras. Pemerintah Greenland menilai gagasan tersebut tidak realistis. Sementara Denmark menegaskan Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk mencaplok wilayah yang berada di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark.
Bukan Pertama Kali Trump Mengincar Greenland
Keinginan Trump terhadap Greenland bukanlah hal baru. Pada 2019, saat menjalani masa jabatan pertamanya sebagai presiden, Trump sempat mengajukan ide membeli Greenland dari Denmark. Usulan itu kala itu ditolak mentah-mentah, dengan pernyataan tegas Greenland “tidak untuk dijual”.
Isu ini kembali menguat setelah Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Bahkan, Trump disebut tidak sepenuhnya menutup kemungkinan penggunaan tekanan politik dan kekuatan untuk mencapai tujuannya. Washington juga menunjuk utusan khusus untuk Greenland, yang secara terbuka berbicara tentang integrasi pulau itu ke dalam wilayah Amerika Serikat.
Langkah-langkah tersebut mengejutkan Denmark, sekutu lama AS di NATO. Langkah Trump ini juga makin memperkeruh hubungan diplomatik di kawasan Atlantik Utara.
Greenland: Pulau Raksasa Sunyi tapi Sangat Strategis
Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang terletak di kawasan Arktik. Secara geografis, pulau ini merupakan bagian dari benua Amerika Utara. Sekitar 80 persen wilayahnya tertutup lapisan es. Jumlah populasi hanya sekitar 56.000 jiwa dan mayoritas berasal dari suku asli Inuit.
Meski tampak terpencil, posisi Greenland sangat vital:
- Berada di jalur terpendek antara Amerika Utara dan Eropa
- Mengontrol akses strategis di Samudra Atlantik Utara dan Arktik
- Menjadi titik penting dalam sistem peringatan dini serangan rudal
Inilah yang membuat Greenland sejak lama dipandang sebagai “bidak catur” dalam permainan kekuatan global.
Dari Zaman Viking hingga Koloni Denmark
Sejarah Greenland jauh lebih panjang daripada tarik-menarik geopolitik modern. Ribuan tahun lalu, wilayah ini dihuni oleh komunitas Paleo-Eskimo yang bertahan hidup di lingkungan ekstrem Arktik.
“Kepemilikan” formal Greenland mulai tercatat pada akhir abad ke-10, ketika Erik the Red, tokoh Viking yang diasingkan dari Islandia, tiba dan mendirikan permukiman di pesisir barat daya pulau tersebut. Permukiman Norse ini bertahan berabad-abad dan menjadi bagian dari kisah legendaris Viking, termasuk pelayaran Leif Erikson ke Amerika Utara.
Namun, pada abad ke-15, permukiman Viking menghilang, diduga akibat perubahan iklim, isolasi, dan runtuhnya jalur perdagangan.
Greenland kemudian kembali masuk radar Eropa pada awal abad ke-18 melalui Hans Egede, misionaris Denmark-Norwegia. Kehadirannya pada 1721 menandai awal klaim modern Denmark atas Greenland dan pendirian ibu kota Godthab, yang kini dikenal sebagai Nuuk.
Greenland dalam Bayang-Bayang Perang Dunia dan Perang Dingin
Nilai strategis Greenland melonjak drastis saat Perang Dunia II. Ketika Jerman Nazi menduduki Denmark pada 1940, Greenland terputus dari pusat kekuasaan kolonialnya dan beralih ke Amerika Serikat untuk perlindungan.
AS segera membangun pangkalan militer dan fasilitas udara di Greenland untuk:
- Mengamankan jalur Atlantik dari kapal selam Jerman
- Menjadi basis logistik menuju Eropa
- Mengumpulkan intelijen meteorologi penting
Setelah perang usai, kepentingan AS tidak berakhir. Pada era Perang Dingin, Greenland menjadi lokasi vital dalam sistem pertahanan Amerika terhadap ancaman Uni Soviet. Pangkalan Udara Thule, yang kini dikenal sebagai Pituffik Space Base, menjadi bagian penting dari sistem peringatan dini serangan nuklir.
Sejak 1951, perjanjian pertahanan dengan Denmark memberi AS peran besar dalam pertahanan Greenland—sebuah fakta yang masih berlaku hingga kini.
Menuju Otonomi tapi Belum Merdeka
Secara politik, Greenland merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. Pulau ini memperoleh pemerintahan sendiri pada 1979, dengan otonomi yang diperluas pada 2009.
Saat ini, Greenland mengelola hampir seluruh urusan domestik, seperti pendidikan, kesehatan dan pengelolaan sumber daya alam.
Namun, pertahanan dan kebijakan luar negeri masih berada di tangan Denmark. Greenland juga menerima subsidi tahunan besar dari Kopenhagen, yang menopang perekonomian lokal berbasis perikanan.
Mengapa Greenland Begitu Menggoda bagi Trump?
Ada beberapa alasan utama mengapa Greenland menjadi obsesinya Trump:
1. Keamanan Nasional
Rute terpendek rudal balistik dari Rusia ke Amerika Serikat melintasi Kutub Utara dan Greenland. Karena itu, fasilitas militer AS di pulau ini dianggap krusial dalam sistem pertahanan Amerika.
2. Persaingan dengan China dan Rusia
China dan Rusia semakin aktif di kawasan Arktik, baik dalam penelitian, perdagangan, maupun militer. AS melihat Greenland sebagai benteng penting untuk menahan pengaruh kedua negara tersebut.
3. Sumber Daya Alam
Pencairan es akibat perubahan iklim membuka akses terhadap cadangan mineral tanah jarang, uranium, besi, potensi minyak dan gas.
Meski Trump menyatakan kepentingannya bukan soal mineral, sumber daya ini tetap menjadi daya tarik besar dalam kalkulasi geopolitik jangka panjang.
Pulau Es di Pusat Perebutan Dunia
Dari zaman Viking hingga era persaingan kekuatan besar, Greenland selalu menjadi wilayah yang diperebutkan, meski sering dipandang sepi dan terpencil. Pernyataan Trump hanya mempertegas satu hal: di tengah perubahan iklim dan rivalitas global, Greenland bukan lagi pinggiran dunia, melainkan pusat kepentingan strategis abad ke-21.
Apakah Greenland akan tetap berada di bawah Denmark, melangkah menuju kemerdekaan penuh, atau terus menjadi medan tarik-menarik kekuatan besar, masih menjadi pertanyaan terbuka.




























