Ilustrasi Tuberkulosis. (Foto: Thinkstock)

Oleh: Dokter Dito Anurogo, MSc PhD (Candidate) (Dokter pengampu Telemedicine di SMA Negeri 13 Semarang, dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, Kandidat Doktor di IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, Ketua Komisi Kesehatan Ditlitka PPI Dunia, penulis puluhan buku misalnya berjudul: “The Art of Televasculobiomedicine 5.0” dan “Stem Cells Made Easy”, reviewer puluhan jurnal nasional dan internasional, trainer bersertifikasi BNSP)

ZNEWS.ID JAKARTA – Vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG), yang pertama kali digunakan pada 1921, merupakan vaksinasi yang saat ini digunakan untuk pencegahan tuberkulosis (TB). Meskipun efektif mencegah TB pada anak-anak dengan efikasi 60–80 persen, vaksin BCG tidak efektif melawan TB paru pada orang dewasa.

Karena itu, WHO merekomendasikan pengobatan obat untuk TB pada orang dewasa, dengan skema pengobatan enam bulan yang mencakup isoniazid dan rifampicin, ditambah dengan pyrazinamide dan ethambutol pada dua bulan pertama.

Namun, efek samping serius dari pengobatan ini, seperti hepatotoksisitas dan neuropati, sering menyebabkan pasien tidak patuh pada pengobatan, yang dapat mengakibatkan relaps infeksi dan pengembangan TB yang resisten obat.

Untuk mengatasi TB yang resisten obat, penelitian terus dilakukan untuk mencari regimen pengobatan yang lebih pendek dan efektif. Rifampicin, dengan potensi sterilisasi yang tinggi, terbukti menghilangkan bakteri yang persisten dan dosis tingginya dapat memperpendek durasi pengobatan.

Selain itu, WHO baru-baru ini memperkenalkan regimen pengobatan 6 bulan untuk pasien MDR/pre-XDR TB yang lebih tua dari 15 tahun, yang mencakup bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moxifloxacin.

Pendekatan baru dalam penyampaian obat, seperti terapi inhalasi, menawarkan keuntungan dosis yang lebih rendah, toksisitas yang berkurang, dan kepatuhan pasien yang lebih baik, dengan langsung menargetkan lokasi infeksi. Inovasi ini membuka harapan baru dalam memerangi TB, terutama TB yang resisten terhadap obat.

BACA JUGA  Melihat Keseriusan Kemenag dan Kementerian ATR/BPN Lindungi Aset Wakaf

Mycobacterium tuberculosis, penyebab TB, memperlihatkan keefektifannya dalam menghindari respons imun bawaan dengan dosis infeksi yang sangat rendah, diperkirakan hanya sekitar tiga bakteri.

Sebelum ditelan oleh sel fagositik, bakteri TB berinteraksi dengan cairan lapisan alveolar, yang terdiri dari campuran kompleks lipid dan protein. Cairan ini memfasilitasi peningkatan penyerapan dan pembunuhan patogen oleh fagosit dan memiliki efek variatif terhadap interaksi dengan sel epitel alveolar.

Kekurangan surfaktan paru-paru, akibat penuaan atau merokok, meningkatkan replikasi TB dalam sel dan meningkatkan risiko pengembangan TB.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa antibodi IgM spesifik terhadap TB yang dihasilkan oleh vaksinasi dapat memberikan perlindungan, menandakan kemungkinan pengembangan vaksin yang mengganggu tahap awal infeksi dengan menghambat faktor virulensi atau mengubah interaksi makrofag secara fungsional.

LEAVE A REPLY