Ilustrasi alzheimer. (Foto: dailycaring.com)

Oleh: Dokter Dito Anurogo MSc (osen tetap di FKIK Unismuh Makassar, sedang studi S3 di IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, Trainer dan Penulis berlisensi BNSP)

ZNEWS.ID JAKARTA – Tanggal 21 September merupakan peringatan Hari Alzheimer Sedunia. Perayaan ini dimulai sejak 21 September 1994, saat pembukaan konferensi tahunan Alzheimer’s Disease (AD) International di Edinburgh.

Alzheimer seringkali membuat para lansia tidak produktif. Padahal dengan pendekatan riset terbaru, para ilmuwan terus berupaya menemukan solusi teragnostik terkini untuk menaklukkan Alzheimer. Dengan demikian, meskipun menua, semua lansia senantiasa berbahagia.

Penyakit Alzheimer adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang berwujud penurunan fungsi kognitif, neuropsikiatri dan motorik perilaku.

Akumulasi agregat beta amiloid adalah ciri khas AD yang bersifat neurotoksik, dan stres oksidatif yang dihasilkan menyebabkan kerusakan pada neuron dan sel otak.

Tujuan utama terapi AD adalah untuk melindungi neuron terhadap stres oksidatif, terapi antiamiloid, degenerasi dan melewati sawar darah-otak (BBB) untuk tindakan yang ditargetkan ke otak.

Sepuluh persen atau sebanyak 5,1 juta orang Amerika berusia di atas 65 tahun menderita AD. Pada 2050, generasi baby boomer yang menua akan menyebabkan jumlah itu mencapai 16 juta jiwa.

Di beberapa wilayah Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali, Bogor, Jatinangor, dan Medan, prevalensi kasus demensia lebih dari 20 persen. Angka ini cukup memprihatinkan karena rerata prevalensi demensia lansia global di bawah 10 persen.

Potret Klinis

Penyakit Alzheimer pertama muncul dengan pelupa (pikun), tetapi segera berkembang menjadi gangguan yang lebih parah dan melemahkan, termasuk kebingungan (disorientasi), gangguan berkomunikasi, gangguan memori (daya ingat) dan intelektual, sulit melakukan kegiatan sehari-hari yang sudah familiar atau menjadi kebiasaan, sulit fokus, sulit memahami visuospasial, sulit/salah membuat keputusan, perubahan perilaku dan kepribadian, mudah cemas, marah, atau tersinggung, meletakkan barang tidak pada tempatnya, menarik diri dari pergaulan (suka menyendiri).

BACA JUGA  Kenali Alzheimer dari Penyebab, Gejala hingga Perawatan

Jelaslah bahwa pikun bukan proses penuaan normal, seperti anggapan kebanyakan orang.

Rata-rata pasien Alzheimer meninggal sekitar delapan sampai 12 tahun setelah diagnosis awal.

LEAVE A REPLY