Salamun, jemaah kloter 63 Embarkasi Surabaya. (Foto: Kemenag)

Oleh: Ishaq Zubaedi Raqib (MCH Daker Makkah Al Mukarramah)

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (yaitu).”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS As Shooffat:108-109)

ZNEWS.ID JAKARTA – Di awal tulisan ini, terdapat sederat ayat dari surah As-Shaaffat. Ayat-ayat ini dan ayat sebelum serta sesudahnya adalah kisah legendaris perjalanan cinta Nabi Ibrahim As dengan isterinya Siti Hajar dan anak kesayangannya Nabi Ismail As.

Saat ia bermimpi– mimpi seorang Nabi adalah sebuah kebenaran, dapat perintah “menyembelih” Nabi Ismail, sang pangeran, Ibrahim hanya berujar siap. Kurban yang kemudian jadi ritual tahunan bagi umat Islam ini, adalah jejak keimanan Ibrahim.

Ia adalah Bapak Agama Samawi. Dialah Nabi yang perjalanannya mencari Tuhan, dicatat dalam banyak kitab suci. Dialah kakek buyut Nabi Muhammad yang kisah perjuangan isterinya mencari air kehidupan untuk putranya, Ismail As, menjadi rangkaian manasik haji.

Tawaf, sa’ie, tahallul yang didahului wuquf di Arafah dan mabit di Masy’aril Haram, adalah kisah ritual Ibrahim. Dia membangun ka’bah, menaruh hajar aswad dan meninggalkan tapak kaki (maqam Ibrahim).

Dari Siti Hajar lahir Ismail dan Siti Sarah melahirkan Ishaq. Dari Nabi Ishaq lahir Nabi Ya’qub yang lalu menurunkan Nabi Yusuf. Dari Ismail As lahirlah Penghulu Para Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad SAW.

Karena perjalanan hidup itu, maka nama Ibrahim dijanjikan Allah jadi sebutan di lidah-lidah manusia setelahnya. “Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS.As Shoffat:108). Sejarah Ibrahim berawal dari mimpi.

***

Syahdan, Salamun, bermimpi sedang berada di sekitar Ka’bah. Ia merasa bak sebutir debu di antara deru tak terbilang para pemuja Tuhan– Ibadullah. Budak-budak Tuhan itu sedang melambaikan tangan menyambut seruan Nabi Ibrahim As.

BACA JUGA  Ajari Anak Berbagi sejak Dini

“Labbayka Allahumma Labbayka–Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu.” Salamun lenyap dalam gelombang suara. Bersatu dalam dekapan rahmat Tuhan. Suaranya persis suara Ibrahim As. di Rumah Tuhan.

LEAVE A REPLY