JAKARTA, ZNEWS.id – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menjadi sorotan setelah menyampaikan pidato di Konferensi Keamanan Munich pada 15 Februari 2026.
Dalam pidatonya, ia menyinggung sejarah dominasi Barat dan masa depan kerja sama AS–Eropa di tengah perubahan tatanan global.
Dalam pidatonya, Rubio mengulas bagaimana selama berabad-abad Barat memperluas pengaruhnya ke berbagai belahan dunia melalui ekspansi politik, militer, dan ekonomi.
Ia menyebut bahwa dominasi Barat mengalami kemunduran sejak pertengahan abad ke-20, dipicu oleh revolusi politik dan gerakan anti-kolonial di berbagai kawasan.
Rubio menilai era dominasi tersebut telah berakhir, namun menegaskan bahwa kemunduran bukanlah sesuatu yang harus diterima sebagai takdir.
Rubio juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump ingin kembali memperkuat kemitraan strategis dengan negara-negara Eropa untuk menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Pernyataan itu ditafsirkan beragam, termasuk sebagai sinyal penegasan kembali peran Barat di panggung dunia.
Pidato tersebut mendapat respons dari para pemimpin Eropa yang sebelumnya menyoroti perubahan lanskap geopolitik internasional.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa tatanan internasional berbasis aturan semakin memudar dan dunia kini memasuki era yang ditandai oleh politik kekuatan besar.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan pentingnya Eropa menjadi kekuatan geopolitik yang lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan strategis.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menegaskan bahwa kekuatan keras atau “hard power” kembali menjadi faktor utama dalam menjaga keamanan dan kepentingan nasional.
Pidato Rubio pun memicu diskusi luas mengenai arah hubungan trans-Atlantik serta posisi Barat dalam menghadapi perubahan keseimbangan kekuatan global.























