Ilustrasi pinjaman online. (Foto: THINKSTOCK)

ZNEWS.ID JAKARTA – Kesulitan finansial seringkali membuat seseorang merasa terdesak. Dalam situasi ini, beberapa orang mungkin melihat pinjaman online (pinjol) ilegal sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang dengan cepat, meskipun mereka harus membayar bunga yang sangat tinggi sebagai imbalan.

Pendapatan yang terbatas, sementara biaya hidup terus meningkat, menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang terjerat pinjol ilegal. Kelompok korban ini bervariasi, mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, pebisnis kecil, hingga pegawai negeri dan pengajar.

Keterbatasan penghasilan seringkali mendorong seseorang untuk memilih pinjol ilegal agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika para peminjam menggunakan pinjol ilegal untuk gaya hidup yang lebih mewah, seperti membeli barang-barang mode atau bahkan hanya bersenang-senang.

Situasi seperti ini dimanfaatkan oleh pelaku pinjol ilegal sebagai target pasar, dengan menawarkan kemudahan dalam akses dan persyaratan pengajuan, batas pinjaman yang tinggi, serta pencairan dana yang cepat.

Fasilitas ini seringkali menggoda masyarakat tanpa mempertimbangkan konsekuensi berat, seperti beban bunga yang besar dan kurangnya transparansi mengenai hak dan kewajiban peminjam terhadap pemberi pinjaman.

Syarat untuk meminjam uang dari pinjol ilegal seringkali hanya membutuhkan foto diri dan KTP. Namun, di balik kemudahan ini, pinjol ilegal biasanya menerapkan suku bunga yang sangat tinggi, sehingga peminjam berpotensi terperangkap dalam siklus utang yang sulit untuk diselesaikan.

Di sisi lain, untuk meminjam uang dari bank konvensional, seseorang harus memenuhi persyaratan yang lebih ketat, seperti melampirkan KTP, bukti penghasilan atau slip gaji, NPWP, rekening koran, buku tabungan, surat keterangan bekerja, serta sertifikat kepemilikan aset sebagai jaminan.

Ketentuan ini juga berlaku untuk pinjaman online yang sah, satu-satunya perbedaan adalah pada pinjol yang sah tidak diperlukan rekening koran atau sertifikat kepemilikan aset sebagai jaminan.

BACA JUGA  Waspada Jebakan Pinjol Ilegal, Jangan Asal Klik Tautan

Berdasarkan data dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), bunga yang dikenakan oleh bank jauh lebih rendah, yaitu kurang dari 2 persen per bulan. Sementara itu, untuk pinjol yang sah dan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada batas maksimal bunga sebesar 0,4 persen per hari atau 12 persen per bulan.

LEAVE A REPLY