JAKARTA, ZNEWS.id –  Ketika sebagian relawan mulai meninggalkan lokasi bencana dan kembali ke rutinitas, dr Rifa Karimah justru masih bertahan di Aceh Tengah.

Memasuki hari ke-57 pascabencana banjir bandang dan longsor, dokter muda asal Takengon itu terus melayani warga yang belum sepenuhnya pulih, baik secara fisik maupun mental.

Sejak bergabung dalam layanan medis pada 23 Desember 2025, dr Rifa hampir tak pernah benar-benar pulang. Baginya, berakhirnya masa tanggap darurat bukan penanda bahwa penderitaan warga telah selesai. Akses kesehatan masih terbatas, sejumlah puskesmas rusak, dan banyak desa sulit dijangkau akibat jalan terputus.

Pada Kamis (22/1/2026), dr Rifa bersama tim medis Dompet Dhuafa menembus jalur longsor menuju Dusun Wihlah Setie, Kecamatan Bintang. Di sana, puluhan warga—terutama lansia dan anak-anak—mengeluhkan gangguan pernapasan, penyakit kulit, serta trauma pascabencana. Layanan medis keliling menjadi tumpuan utama karena jarak ke fasilitas kesehatan terlalu jauh.

Berdasarkan data BNPB per 21 Januari 2026, bencana ini menelan 1.200 korban jiwa dan 143 orang masih dinyatakan hilang. Di balik data tersebut, penyintas masih bergulat dengan dampak berkepanjangan yang tak selalu terlihat.

“Pemulihan tidak berhenti saat air surut. Justru di fase inilah kehadiran tenaga medis sangat dibutuhkan,” ujar dr Rifa.

Di saat perhatian publik mulai bergeser, keteguhan dr Rifa menjadi penanda bahwa pengabdian kemanusiaan sejati tidak dibatasi waktu, melainkan dijalani hingga mereka yang terdampak benar-benar mampu bangkit kembali.

LEAVE A REPLY