Jakarta, ZNews.id – Langkah Moody’s Ratings menurunkan prospek (outlook) lima bank besar Indonesia dari stabil menjadi negatif memicu perhatian pelaku pasar. Namun, Bank Indonesia (BI) menegaskan fondasi industri perbankan nasional masih solid. Terutama dari sisi likuiditas dan ketahanan terhadap tekanan eksternal.
Keputusan Moody’s diumumkan pada 6 Februari 2026, sehari setelah lembaga tersebut merevisi outlook utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat kredit di level Baa2.
Lima Bank Jumbo Terdampak
Lima bank yang prospeknya direvisi adalah:
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
- PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
Kendati outlook diturunkan menjadi negatif, Moody’s tidak mengubah peringkat kredit masing-masing bank. Artinya, kapasitas pembayaran utang dinilai masih berada pada level yang sama. Namun risiko ke depan dipandang meningkat seiring perubahan prospek sovereign Indonesia.
BI Paparkan Hasil Stress Test
Merespons perkembangan tersebut, Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono menyatakan bahwa bank sentral telah melakukan uji ketahanan likuiditas untuk mengantisipasi potensi tekanan global.
“Liquidity stress test telah dilakukan oleh Departemen Surveilans Makroprudensial, Moneter, dan Market (DSMM) menunjukkan ketahanan perbankan terhadap skenario tekanan eksternal,” ujar Thomas dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Menurut BI, simulasi dilakukan dengan berbagai asumsi guncangan eksternal, termasuk potensi arus modal keluar dan tekanan pasar keuangan global. Hasilnya, perbankan dinilai masih memiliki bantalan likuiditas yang memadai.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan penenang bagi investor di tengah sentimen global yang bergejolak.
Strategi Bangun Narasi Pertumbuhan
Thomas, yang baru dilantik sebagai Deputi Gubernur BI periode 2026–2031, juga menegaskan pentingnya komunikasi terpadu antara otoritas dalam menjaga persepsi pasar.
“Saat ini kami juga sedang mempersiapkan koordinasi lebih lanjut untuk membangun narasi yang terpadu mengenai pertumbuhan ekonomi yang bisa dikhususkan terhadap investor maupun credit rating agency yang akan datang di kemudian hari,” katanya.
Ia menjelaskan, BI akan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan pesan mengenai fundamental ekonomi Indonesia tersampaikan secara konsisten kepada investor global dan lembaga pemeringkat.
Thomas sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak Juli 2024, sebelum akhirnya resmi menempati posisi Deputi Gubernur BI setelah melalui uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR pada Januari 2026.
Di sisi lain, posisi yang ditinggalkan Thomas di Kementerian Keuangan kini diisi oleh Juda Agung, yang sebelumnya menjabat Deputi Gubernur BI dan mengajukan pengunduran diri pada Januari 2026.
Dampak ke Industri Perbankan
Penurunan outlook biasanya mencerminkan meningkatnya risiko dalam jangka menengah, baik dari sisi ekonomi makro maupun fiskal. Dalam konteks Indonesia, revisi prospek sovereign menjadi faktor utama yang memengaruhi pandangan terhadap sektor perbankan.
Namun, karena peringkat kredit bank tidak diturunkan, akses pendanaan dan kepercayaan pasar dinilai belum terdampak secara langsung. Investor umumnya akan mencermati perkembangan indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas nilai tukar, serta posisi fiskal pemerintah.
BI menekankan sistem keuangan nasional tetap berada dalam kondisi stabil. Selain likuiditas, rasio permodalan perbankan dan kualitas aset juga disebut masih dalam batas aman.
Dengan kombinasi koordinasi kebijakan dan penguatan komunikasi, otoritas berharap sentimen pasar dapat dikelola. Dengan demikian, tekanan eksternal tidak berkembang menjadi risiko sistemik.





























