Ilustrasi Optimasi Wakaf Saham. (Foto: ist)

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie (Founder dan CEO Ekselensia Tahfizh School, Founder dan CEO Insani Leadership, Pendiri Wakaf Insani Institute, Konsultan Pendidikan, Praktisi Wakaf Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Wakaf saham masih menjadi tema asing dalam pengembangan wakaf produktif di Indonesia. Tidak banyak nazir yang memilih mengampanyekan wakaf saham dan menjadikannya sebagai strategi pengembangan wakaf.

Minimnya kompetensi nazir di bidang wakaf saham disinyalir jadi sebab kurang berkembangnya wakaf saham. Padahal, wakaf saham memiliki prospek bagus untuk berkembang dan memberikan kontribusi surplus wakaf signifikan dan berkelanjutan.

Secara kepatuhan syariah pun sudah jelas dengan adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang wakaf uang tanggal 11 Mei 2002. Dalam fatwa ini, disebutkan kebolehan wakaf uang, dan surat berharga, seperti saham, dikategorikan dalam wakaf uang.

Kemudian, dipertegas lagi dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI No. 135 tahun 2020 tentang saham, yang menyebutkan bolehnya saham menjadi objek wakaf.

Pada praktiknya, wakaf saham bisa dilakukan dalam dua skema; pertama, mewakafkan objek sahamnya. Maka, dalam hal ini, pokok wakafnya adalah nilai rupiah sahamnya.

Nilai inilah yang mesti diupayakan oleh nazir agar tidak berkurang. Sementara, dividen yang dihasilkan dari saham wakaf menjadi surplus wakaf yang disalurkan kepada mauquf alaih (penerima manfaat wakaf).

Kedua, mewakafkan dividen dari kepemilikan saham. Artinya, objek sahamnya masih tetap dimiliki wakif, sementara dividennya yang menjadi objek wakaf. Dalam hal ini, dividen tersebut menjadi pokok wakafnya.

BACA JUGA  Wakaf Produktif sebagai Solusi Ekonomi Umat

LEAVE A REPLY