Kementerian Agama RI mengundang dua pemimpin agama terkemuka di dunia, yaitu Paus Fransiskus dan Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayyeb untuk hadir ke Indonesia melihat realitas keberagaman republik ini. (Foto: Kemenag)

Oleh: Saiful Maarif (Asesor SDM Aparatur Kemenag)

ZNEWS.ID JAKARTA – Perihal persaudaraan kemanusiaan dan perdamaian dunia selalu menjadi perhatian utama tokoh kegamaan dunia. Itulah mengapa bulan Februari menjadi momen spesial terkait persaudaraan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Lima tahun lalu, Grand Syekh Al Azhar, Syekh Ahmad el-Tayeb dan Paus Fransiskus menandatangani Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama (Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together).

Tentu saja, penting untuk mengingat dan menyegarkan kembali semangat tersebut karena keabadian pesan yang dikandung dan konteks kekinian.

Setahun setelahnya, momentum Hari Internasional Persaudaraan Manusia ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk diperingati setiap 4 Februari. PBB patut bersegera dengan niatan tersebut lantaran motif sikap segregatif tetap mengemuka dalam bentuk pengabaian nilai kemanusiaan dan merendahkan persaudaraan kemanusaiaan.

Dalam semangat itu pula, gelaran Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 diselenggarakan. Ajang tahunan ini digelar pemerintah yang berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo awal bulan ini.

Selain akademisi, hadir juga para tokoh agama dari sejumlah negara yang mendiskusikan beragam persoalan kontemporer dalam bingkai tema ‘Redefining The Roles of Religion in Addressing Human Crisis: Encountering Peace, Justice, and Human Rights Issues’.

Seruan untuk menyatukan langkah dalam perbedaan iman dan keyakinan perlu terus digaungkan karena agama pada dasarnya tidak memiliki intensi untuk memecah belah umat beragama. Semua agama menyuarakan hal ini. Namun demikian, di panggung politik dengan segala klaim dan provokasinya, perpecahan itu begitu dekat.

Diakui atau tidak, penggunaan simbol dan idiom keagamaan lekat dipakai. Para pelakunya berdalih bermacam rupa untuk memanipulasi maksud dan tujuan demi memuaskan nafsu politiknya.

BACA JUGA  Dompet Dhuafa Terdepan Salurkan Bantuan Banjir Pakistan

Lebih jauh, di pentas internasional nyata terlihat banyak pemimpin dunia yang mengabaikan nilai perdamaian dunia. Kita disuguhkan dengan kenyataan bahwa damai telah memiliki jarak yang terlalu jauh dengan keseharian kita hari ini.

Beberapa elit dunia telah sedemikian rupa menjadikan berbagai hal sebagai pemicu perang, kebencian, permusuhan, dan ekstremisme, di samping sebagai pemantik kekerasan atau pertumpahan darah.

LEAVE A REPLY