Ilustrasi. (Foto: aboutislam.net)

Oleh: Lulu Nailufaaz

ZNEWS.ID JAKARTA – Ketika suatu hari, terjadi suatu dialog dengan teman nonmuslimku di bangku SMA. Ia bertanya alasanku memilih Islam. Saat itu, setelah obrolan yang panjang, dengan kuasaNya, aku memberikan jawaban yang hingga kini aku syukuri telah menyampaikan kepadanya.

Bahwasannya, Islam memiliki pedoman yang keotentikannya paling terjaga hingga hari ini. Al-Qur’an. Tak mungkin kekuatan manusia mampu menjaganya dalam waktu yang panjang di dunia seluas ini.

Dan, saat itu aku menyadari bahwa memilih Islam dan menjadi muslim adalah syukur yang tak hingga, harta yang paling berharga. Sungguh, Ia Maha Mengetahui segala sesuatu atas ketidaksanggupan diri jikalau dibesarkan bukan dari orang tua yang mengajarkan kesempurnaan agama ini.

Karena bagaimanapun juga, meski setiap manusia fitrahnya terlahir Islam seperti persaksiannya ketika di alam ruh,

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’.” (QS Al-A’raf:172)

Orang tuanyalah yang kemudian membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.

“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi’.” (HR Abu Hurairah)

BACA JUGA  Menjadi Manusia

LEAVE A REPLY