Ilustrasi teknologi pengawetan makanan. (Foto: aaps.ca

ZNEWS.ID JAKARTA – Data tahun 2017 dari The Economist menyebutkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara food waste dan food loss nomor dua di dunia. Penyebab food waste dan food loss dapat terkait teknologi penyimpanan yang ada di masyarakat. Salah satu teknik penyimpanan bahan pangan adalah dengan pengawetan asap cair.

“Teknologi asap cair jika dapat diimplementasikan untuk masyarakat maka akan sangat bermanfaat karena aplikatif dan murah,” ujar Plh Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Tri Puji Priyatno dilansir dari laman resmi BRIN.

BRIN sendiri telah melakukan sejumlah riset dalam rangka mengurangi food waste dan food loss, salah satunya melalui penelitian yang dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN.

“PRTPP baru saja memiliki kelompok riset pengawetan dan teknologi maju pangan, ruang lingkupnya melakukan kegiatan riset pengawetan pangan secara fisika dan kimia, kemasan aktif dan pintar, dan proses pangan serta minuman dengan iradiasi, plasma, sonikasi, desikan, pemanas tanpa api, pemurnian asap cair, enkapsulasi, dan membran,” ujar Kepala PRTPP BRIN, Satriyo Krido Wahono.

Teknologi Pengawetan

Sejalan dengan apa yang disampaikan Satriyo, Ngajitekprop seri 5 mengulas upaya para periset BRIN guna mengurangi food waste dan food loss melalui riset dan inovasi teknologi pengawetan pangan, seperti asap cair, penggunaan bahan yang dapat mempertahankan suhu dingin, dan aplikasi teknologi radiasi.

Olahan pangan yang berasal dari sumber daya alam yang ada di Indonesia tidak dapat terlepas dari limbah biomassa. Beberapa contoh biomassa antara lain serabut kelapa, tempurung kelapa, ampas tepung, tandan kosong kelapa sawit, dan lain-lain. Tempurung kelapa sebagai limbah biomassa dimanfaatkan oleh pengusaha sebagai sumber energi pemanasan.

BACA JUGA  Antisipasi Dampak Perubahan Iklim dengan Sistem Peternakan Ramah Lingkungan

Reka Mustika Sari, peneliti Post Doc di kelompok riset Pengawetan dan Teknologi Maju Pangan PRTPP BRIN, menjelaskan penelitiannya bahwa tempurung kelapa yang dibakar menghasilkan asap dalam jumlah cukup banyak, sehingga dapat mengganggu kesehatan pernapasan manusia.

Adanya polusi udara, mengarahkan pemanfaatan asap tersebut sebagai asap cair. Reka telah melakukan penelitian untuk menghasilkan asap cair.

“Asap cair adalah hasil dari produksi pyrolysis, berwarna antara hitam hingga cokelat kehitaman. Bentuk fase berawal dari air dan baunya unik yakni bau asap,” ujarnya.

LEAVE A REPLY