Seorang karyawan saat meracik minuman jamu melayani pengunjung, di Kafe Jamu Pasar Jamu Nguter Sukoharjo, Minggu (18/9/2022). (Foto: ANTARA/Bambang Dwi Marwoto)

ZNEWS.ID SUKOHARJO – Jamu merupakan warisan tradisi budaya yang tidak ternilai harganya. Jamu tidak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat  peraciknya. Jamu konon berkembang sejak zaman Kerajaan Mataram.

Penemuan artefak cobek dan ulekan sebagai alat tumbuk jamu di situs arkeologi Liyangan di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah, menguatkan keyakinan itu.

Selain artefak tersebut, sejumlah literasi juga mengungkapkan bahwa relief Karmawibhangga di Candi Borobudur, serta relief di beberapa candi lain seperti Candi Prambanan dan Candi Brambang juga ada yang mengisahkan tentang alat pembuatan jamu.

Jadi, jamu dan tradisi meraciknya telah ada sejak lama. Laman indonesia.go.id bahkan menyebutkan bahwa tradisi minum jamu ini diperkirakan sudah ada sejak 1300 Masehi.

Kata jamu diyakini berasal  dari bahasa Jawa Kuno, Djampi dan Oesodo. Djampi bermakna penyembuhan dan Oesodo bermakna kesehatan.

Minuman berkhasiat khas Indonesia ini awalnya hanya dijadikan sebagai ramuan obat. Namun, jamu tradisional kini banyak digunakan untuk meningkatkan stamina serta kesehatan pada umumnya. Karena kebermanfaatannya itu, jamu tradisional diyakini akan tetap eksis, terjaga keberlanjutannya.

Salah satu daerah yang menyatakan diri sebagai “Kabupaten Jamu Tradisional” adalah Sukoharjo, Jawa Tengah. Kabupaten ini memiliki pasar jamu, yakni Pasar Nguter.

Banyak julukan yang disematkan kepada kabupaten ini, seperti Kota Makmur, Kota Tekstil, Kota Gamelan, The House of Souvenir, Kota Gadis (perdagangan, pendidikan, industri, dan bisnis), Kabupaten Batik, Kabupaten Pramuka, dan Kabupaten Jamu.

Pasar Nguter berada di Desa Nguter, daerah di Sukoharjo yang menjadi sentral jamu tradisional. Beberapa orang peracik jamu dahulu mencoba melestarikan tradisi meracik jamu.

LEAVE A REPLY