Ilustrasi terapi kanker. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Limfedema adalah pembengkakan yang umumnya terjadi di daerah lengan, kaki, atau wajah yang disebabkan oleh tumpukan cairan getah bening akibat tersumbatnya pembuluh getah bening.

“Limfedema adalah salah satu komplikasi yang dialami oleh pasien usai terapi kanker,” kata dr Rizky Ifandriani Putri SpPA, Dokter Spesialis Patologi Anatomi Mayapada Hospital Jakarta Selatan dilansir dari Antara.

Risiko berkembangnya limfedema tergantung pada jenis operasi yang dilakukan, faktor risiko pasien seperti obesitas atau penambahan berat badan setelah operasi, faktor pengobatan seperti radiasi atau beberapa jenis kemoterapi, dan komplikasi setelah operasi.

Cairan getah bening yang sebagian besar mengandung protein dan sel darah putih (sel darah yang melawan infeksi) merupakan salah satu bagian dari sistem limfatik atau sistem pertahanan tubuh dalam membasmi infeksi.

Dalam menjalankan fungsinya, cairan getah bening (cairan limfe) akan beredar di dalam pembuluh getah bening. Ketika terjadi kerusakan pembuluh getah bening, aliran cairan getah bening akan tersumbat dan mengakibatkan pembengkakan di bagian tubuh tertentu.

Seseorang yang menjalani operasi besar, termasuk pengangkatan kelenjar getah bening dan yang menjalani terapi radiasi di lokasi di mana terdapat kelenjar getah bening, memiliki kemungkinan lebih besar mengalami limfedema.

Limfedema dapat muncul dua sampai tiga tahun usai operasi, namun risiko tetap ada seumur hidup dan risiko akan meningkat akibat cedera pada anggota badan.

BACA JUGA  LKC Dompet Dhuafa Aceh Edukasi Pencegahan Kanker di Kawasan Sehat Binaan

LEAVE A REPLY