Ilustrasi: Ustaz Angga, Dai Pemberdaya Dompet Dhuafa, tengah berdakwah di Dusun Tubeket Mentawai, Sumatra Barat. (Foto: DD Singgalang)

ZNEWS.ID JAKARTA – Salah satu fungsi utama masjid adalah tempat untuk melaksanakan salat berjemaah. Agar masjid menjadi makmur, tentu pengurus DKM juga melaksanakan kegiatan lainnya seperti kajian rutin yang diadakan mingguan, dwi mingguan, dan ada juga yang bulanan.

Tidak berhenti sampai di situ, tak jarang pula ada Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Bahkan, ada beberapa masjid yang menyelenggarakan layanan kesehatan secara cuma-cuma walaupun tidak setiap hari.

Kajian keislaman tentu bertujuan agar keimanan dan ketakwaan umat semakin baik dan meningkat, bertambahnya ilmu dan semakin baik akhlaknya. Jika diperhatikan, kajian keislaman yang diselenggarakan di masjid tidak semuanya memberikan kesempatan bagi jemaah untuk bertanya kepada narasumber.

Entah alasan singkatnya waktu kajian atau sebab lainnya. Inilah yang mesti dievaluasi. Mengapa demikian?

  • Upaya preventif agar jemaah tidak distorsi pemahaman terhadap kajian yang disampaikan oleh narasumber.
  • Upaya untuk mencerdaskan jemaah agar bertambah wawasannya.
  • Agar kajian berjalan dengan dinamis dan tidak membosankan.

Jika kajian di masjid berjalan dengan lancar dan sukses, sebetulnya masih ada kemungkinan bagi sebagian jemaah yang masih mempunyai permasalahan pribadi dan masih dalam ranah keagamaan yang tidak bisa disampaikan sang penanya kepada narasumber di depan forum. Lantas bagaimana solusinya ?

Untuk menjawab permasalahan tersebut, alangkah baiknya jika di suatu masjid ada layanan konsultasi agama gratis. Jika di masyarakat kita sudah banyak klinik kesehatan, mengapa tidak ada klinik agama?

LEAVE A REPLY