Ilustrasi: Jemaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf yang merupakan salah satu rukun haji. (Foto: ANTARA/Hanni Sofia)

Oleh: Muhammad Fauzinuddin Faiz (Dosen UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember)

ZNEWS.ID JAKARTA – “Sebuah perjalanan penuh makna dan pengalaman mendalam,” begitulah yang selalu terdengar ketika seseorang kembali dari ibadah haji. Namun, dalam kisah ini, saya ingin berbagi pandangan dari sudut pandang yang mungkin jarang dieksplorasi: perspektif seorang peziarah yang bertemu dengan orang-orang yang telah menyelesaikan ibadah haji mereka dan kembali ke Tanah Air.

Jejak-jejak rasa perjalanan haji yang saya temukan bukan hanya sekadar cerita inspiratif, tetapi juga kisah-kisah kehidupan yang tulus dan jujur.

Perjalanan ini dimulai ketika saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan seorang sahabat lama, Munir, yang baru saja kembali dari Tanah Suci.

Kita sering mendengar cerita-cerita perjalanan haji yang penuh dengan nuansa sakral dan keberkahan, namun Munir menawarkan pandangan yang lebih personal dan dalam. Tanpa filter glamor atau penceritaan berlebihan, dia berbagi tentang perjalanan spiritual dan mental yang dia alami.

Saat pertemuan kami, Munir tampak lebih tenang dan damai. Dia bercerita tentang momen-momen intens di dalam Masjidil Haram yang membuat hatinya bergetar.

“Tawaf pertama kali di Ka’bah adalah momen di mana dunia nyata dan gaib bergabung dalam satu kesatuan,” ujarnya dengan mata berbinar.

Namun, di balik kata-katanya yang menggambarkan keindahan tersebut, ada juga cerita tentang perjuangan dan kesabaran yang dia temui. Dia membagikan bagaimana perjalanan fisiknya menjadi ujian nyata.

“Banyak dari kita membayangkan perjalanan haji sebagai rutinitas ibadah yang mudah dilalui, tapi kenyataannya adalah perjalanan panjang dan melelahkan,” ujar Munir sambil tersenyum.

Ceritanya tentang berjalan antara Safa dan Marwah, saat-saat kelelahan fisik yang membuatnya merenungkan ketahanan dan ketabahan.

LEAVE A REPLY