JAKARTA, ZNEWS.id – Di antara kuali besar dan tumpukan bahan makanan di Dapur Umum yang didirikan DMC Dompet Dhuafa, Lastri (43) tampak sibuk menggoreng ayam.
Sejak subuh, ia telah menanak nasi, mengiris bawang, cabai, dan menyiapkan berbagai kebutuhan dapur untuk para penyintas banjir Aceh Tamiang.
Lastri bukan sekadar relawan. Ia adalah penyintas banjir di Langsa yang memilih bangkit dan berbagi tenaga bagi mereka yang kondisinya lebih parah. Warga Simpang Komodor ini kini menjadi bagian dari relawan Dapur Umum Dompet Dhuafa yang setiap hari menyiapkan makanan bagi warga terdampak banjir bandang Aceh Tamiang.
“Yang saya lihat di Aceh Tamiang itu jauh lebih parah dibandingkan yang terjadi di Langsa. Dari situ, jiwa kemanusiaan saya tergerak untuk membantu, meskipun saya sendiri juga terdampak banjir,” tutur Lastri.
Sudah dua hari terakhir Lastri terlibat penuh di dapur umum Dompet Dhuafa yang berlokasi di Pos Dompet Dhuafa, Kota Langsa. Aktivitas memasak dimulai sejak dini hari dan baru selesai setelah ribuan porsi makanan siap didistribusikan untuk santapan malam para penyintas.
Dukungan datang dari keluarga terdekatnya. Suami dan anak-anak Lastri mengizinkan sekaligus menguatkannya untuk terjun membantu. Mereka pun mengikuti perkembangan kondisi Aceh Tamiang melalui media sosial.
“Mereka lihat sendiri betapa parahnya di sana. Bangunan hancur, warga tidur di pinggir jalan, dan air bersih sangat sulit. Itu yang membuat kami sekeluarga sepakat saya ikut membantu,” ujarnya.
Pengalaman menjadi penyintas membuat Lastri semakin peka. Ia kerap tergidik saat membayangkan kondisi warga Aceh Tamiang, terutama anak-anak yang harus bertahan di tengah keterbatasan.
“Saya punya anak. Saya membayangkan kalau itu terjadi pada anak-anak saya—sulit makan dan minum, tidur tidak layak. Dari situ saya bertekad membantu dengan cara yang saya bisa,” ucapnya lirih.
Bersama empat perempuan lainnya, Lastri menyiapkan sekitar 1.000 porsi makanan setiap hari. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh—para penyintas yang memilih bangkit dan menjadi relawan kemanusiaan. Dari dapur sederhana, mereka menguatkan harapan warga Aceh Tamiang yang hingga kini masih membutuhkan bantuan pangan sehat dan bergizi.
Diketahui, banjir bandang melanda Aceh Tamiang pada 26 November 2025 lalu, memporak-porandakan hampir seluruh wilayah. Pascabencana, banyak warga terpaksa membangun gubuk seadanya di pinggir jalan untuk bertahan hidup.
Lebih dari dua pekan berlalu, kondisi warga masih serba terbatas. Melalui Dapur Umum, Dompet Dhuafa terus berupaya menghadirkan pangan hangat sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas kemanusiaan.



























