Penjual jajanan melayani pembeli di Pasar Jajanan Tradisional di Desa Rejosari, Dawe, Kudus, Jawa Tengah. (Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho)

Oleh: Dr Destika Cahyana SP MSc (peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, BRIN)

ZNEWS.ID JAKARTA – Setiap 21 April, Bangsa Indonesia memperingati kelahiran Raden Ajeng (RA) Kartini. Kisah kehidupan dan kiprah perempuan asal Jepara itu ternyata multidimensi. Pantas, Kartini dikagumi banyak pihak, dari berbagai kalangan.

Ia tak hanya memperjuangkan hak kaum wanita, seperti yang telah lama dikenal, tetapi juga perintis persatuan dan kesatuan bangsa.

Kartini bahkan disebut sebagai santriwati Kiai Soleh Darat, yang populer di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Perjuangan Kartini bahkan menjadi kajian di universitas-universitas Islam yang tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Kini, Kartini juga dianggap sebagai salah satu representasi tokoh Islam yang memperjuangkan pendidikan, seperti banyak dikaji di skripsi-skripsi Universitas Islam Negeri.

Namun, banyak yang tak menyadari bahwa Kartini juga pejuang kuliner lokal dan pangan lokal. Kartini sebagai putri bupati, tentu berjumpa dengan beragam produk kuliner dan bahan pangan papan atas di zamannya.

Di sela-sela kehidupannya yang pendek, Kartini masih sempat merekam resep masakan yang dihidangkan untuk keluarga bangsawan di lingkungan Kadipaten Jepara.

Tentu, resep masakan yang dihidangkan untuk keluarga priyayi berasal dari tangan dingin perempuan bangsawan dan dayang terbaik di zamannya. Kartini menulis resep makanan tersebut dalam aksara Jawa dengan rinci.

Kelak, oleh keturunan Kartini, ternyata diketahui bukan hanya Kartini yang menulis resep masakan tersebut. Saudari Kartini yang lain juga menulis.

BACA JUGA  Dompet Dhuafa Kirim Bantuan Ambulans untuk Evakuasi Korban Serangan Israel di Gaza

LEAVE A REPLY