Ilustrasi gibah. (Foto: Shutterstock.com)

ZNEWS.ID JAKARTA – Bayangkanlah seseorang yang bekerja siang malam demi mendapatkan penghasilan, lalu setelah uang diterima, ia malah memberikan uang penghasilannya itu pada seseorang yang amat dibencinya. Kira-kira bagaimana perasaan kita jika hal tersebut terjadi pada diri sendiri? Pastilah merasa rugi bukan?

Sadarilah bahwa ketika kita menggibah seseorang, sama saja seperti memberikan pahala yang kita upayakan selama hidup di dunia ini pada orang tersebut di akhirat kelak. Bukankah amat rugi?

Lihatlah Imam Hasan Al Bashri yang justru memberikan hadiah kepada seseorang yang menggibahinya. Pada suatu hari, beliau mendapat kabar kalau ia telah digibahi oleh si fulan.

Mendengar kabar tersebut, Hasan Al-Bashri menjadi bersyukur dan ia segera mengutus seseorang untuk mengirimkan emas permata kepada orang yang menggibahinya, dan menitipkan pesan:

“Telah sampai kepadaku sebuah berita bahwa engkau berbaik hati mengirim amal kebajikanmu kepadaku. Oleh karena itu, aku hadiahkan seluruh hadiah ini kepadamu.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah engkau apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi SAW, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR Muslim no. 2589)

Jelas bahwa yang disebut gibah adalah menyebutkan suatu ucapan tentang diri seseorang yang tidak ia sukai. Misalkan seorang bertubuh pendek, tentu tidak akan suka ketika ia digibah “Dasar pendek!” Demikian juga seseorang yang bertubuh kurus, berhidung pesek, atau hal lainnya yang tidak disenanginya.

LEAVE A REPLY