Ilustrasi Iringi Keburukan dengan Kebaikan. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Tidak ada manusia yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Setiap manusia telah diberikan oleh Allah dua pilihan, jalan kebaikan dan jalan keburukan.

“Maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu jalan fujur (melanggar, membantah, tidak taat, fasik, buruk ) dan jalan takwa (taat, patuh, nurut, baik). Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya (dengan jalan takwa itu) dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya (dengan mengikuti jalan fujur).” (QS Asy-Syams:8-9)

Dari ayat tersebut, jelas bahwa mengikuti jalan kebaikan atau keburukan adalah hasil pilihan dan keputusan manusia sendiri, bukan ketetapan Allah, karena Allah telah memberikan setiap manusia kesempatan untuk berlaku baik atau buruk.

Namun, Rasulullah shalallaahu alaihi wassalam mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dalam menjadi orang baik yang memilih jalan takwa.

Ketika kita melakukan kesalahan dan memilih tindakan buruk, kita dianjurkan untuk mengiringi perbuatan buruk tersebut dengan amal kebaikan.

Apa manfaatnya mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik? Adakah hikmah tersembunyi di balik anjuran ini?

Berikut ini beberapa hal penting yang perlu kita ketahui mengapa perbuatan buruk harus segera ‘ditutupi’ dengan perbuatan baik:

  • Kebiasaan Buruk yang Dipelihara akan Menjadi Karakter Buruk

Oleh sebab itu, kita perlu menyelingi perbuatan buruk dengan amal kebaikan agar keburukan tersebut tak menjadi kebiasaan apalagi karakter diri kita.

BACA JUGA  Kolaborasi Antarlembaga Kemanusiaan dan Pemerintah Dorong Resiliensi Penyintas Bencana Alam di Indonesia

LEAVE A REPLY