Ibda’ bi Nafsik, Mulailah dari Dirimu Sendiri!

Oleh: Ahmad Zainul Hamdi (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kemenag)

“Kemarin aku adalah seorang cerdik-pandai, maka aku ingin mengubah dunia. Tapi kini, aku seorang yang bijaksana, karena itu, aku akan mengubah diriku sendiri.” (Jalaluddin al-Rumi)

ZNEWS.ID JAKARTA – Di dalam tasawuf, ada ajaran etis yang sangat terkenal: ibda’ bi nafsik. Secara harfiyah, berarti “mulailah dari dirimu sendiri.” Hampir semua sufi mewejangkan ini kepada murid-muridnya. Bahwa, langkah pertama untuk seluruh perbaikan haruslah bermula dari perbaikan dan kebaikan diri sendiri.

Kalimat ini sangat sederhana, tapi memiliki makna yang dalam dan konsekuensi yang panjang. Ajaran ini menuntut konsistensi dalam tindakan. Juga, objektivitas dalam menilai diri sendiri dan orang lain.

Betapa mudahnya seseorang melihat kejahatan pada orang lain, tapi lupa bahwa kejahatan yang sama bertahun-tahun telah dilakukannya. Betapa mudahnya seseorang merasa jijik dan marah dengan perilaku manipulatif seseorang, padahal dia sendiri juga melakukan hal yang sama.

Ajaran “mulailah dari dirimu sendiri” tidak melarang kita untuk mengingatkan, bahkan mengkritik orang lain yang kita pandang sedang melakukan kejahatan. Ajaran ini hanya mengingatkan kepada kita bahwa kita juga harus menerapkan standar moral yang sama terhadap diri kita.

Ajaran ini meminta kita untuk melihat diri sendiri lebih dulu sebelum menilai orang lain. Ketika kita menilai orang lain sebagai benar atau salah, pasti kita memiliki standar moral yang digunakan sebagai ukuran. Ukurlah diri sendiri dengan standar moral yang sama, yang kita gunakan untuk menilai orang lain.

Jika kita semua melakukan prosedur penilaian etis ini, maka setiap kritik kepada orang lain sungguh-sungguh akan menjadi sebuah proses perbaikan menuju kebaikan bersama. Hal ini karena kita juga menerapkan nilai yang sama terhadap diri sendiri, bahkan lebih dulu melakukannya.

BACA JUGA  Kampung Hijau Cempaka Putih, Solusi Penyediaan Pangan Sehat Warga Perkotaan

Kalau tidak demikian, maka penilaian dan kritik terhadap orang lain bukanlah proses perbaikan, bisa jadi karena sedang tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan.

LEAVE A REPLY