Ilustrasi jemaah haji. (Foto: Kemenag)

ZNEWS.ID JAKARTA – Biasanya, kita akan menggunakan pakaian termahal atau pakaian terbaik kita ketika pergi ke luar negeri. Tapi untuk ihram, siapapun orangnya, harus menanggalkan semua pakaian kebesarannya.

Presiden, jenderal, miliuner, bahkan seorang syekh sekalipun tidak bisa menggunakan seragam atau pakaian yang menunjukkan identitas kedudukan sosialnya. Semua harus dicopot dan diganti dengan dua helai kain.

Saat itu, semua manusia sama di hadapan Allah SWT. Semuanya mengiba dan mengemis kasih sayang dan ampunan Allah.

Ada baiknya kita simak dulu satu hadis Rasulullah mengenai kriteria pakaian Ihram berikut Ini:

عَن سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ الْقَمِيصَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا السَّرَاوِيلَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ وَلَا وَرْسٌ وَلَا الْخُفَّيْنِ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْهُمَا فَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ

“Dari Salim dari Ayahnya dari Nabi SAW beliau bersabda: ‘Janganlah seorang yang berihram mengenakan kain gamis (jubah), surban, celana panjang, baju lengan panjang yang bertutup kepala dan tidak pula pakaian yang tercampuri dengan minyak za’faran dan wars (sejenis tumbuhan berwarna kuning atau kunyit) serta tidak pula mengenakan sepatu, kecuali jika ia tidak mendapatkan sandal, dan harus memotongnya lebih rendah dari kedua mata kaki’.” (HR Sembilan Imam, Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibn Majah, Malik, Ad-Darimi dan Ahmad)

Secara ringkas, pakaian ihram untuk pria:

  • Pakaian tidak berjahit dan hanya dua helai. Satu untuk bawahan atau sarung, sedangkan satunya lagi untuk atasan atau baju. Gamis, kemeja, kaus, celana panjang atau sarung yang dijahit tidak boleh.
  • Tidak boleh memakai penutup kepala seperti imamah, topi, atau peci.
  • Pakaian yang memakai pengharum. Dalam hal orang yang berihram tidak boleh memakai wewangian.
  • Tidak boleh memakai alas kaki yang menutupi mata kaki.
BACA JUGA  Manasik dan Ikhtiar Menjadikan Jemaah Haji Lebih Mandiri

LEAVE A REPLY