Masyarakat di Kota Rafah di Jalur Gaza bagian selatan pada Kamis (12/10/2023), membantu upaya penyelamatan para korban rentetan serangan udara Israel. (Foto: ANTARA/Khaled Omar/Xinhua/tm)

Oleh: Ahmad Nuri (Ketua PP GP ANSOR)

ZNEWS.ID JAKARTA – Keteguhan mental rakyat Gaza (Palestina) di tengah mengalami invasi militer Israel sejak Oktober tahun lalu membuat dunia geleng-geleng kepala. Cuplikan sejumlah video di banyak media tentang kondisi Gaza memperlihatkan situasi penuh kegetiran yang bisa-bisanya terintegrasi dengan senyuman serta raut optimisme di saat bersamaan.

Tangisan tentu ada, tetapi soliditas selalu terjaga dan nuansa saling menguatkan di antara rakyat Gaza tetap tak pernah luput dari lensa pemberitaan. Kita juga tidak pernah mendengar adanya sikap saling menyalahkan yang berujung perpecahan di antara rakyat Gaza.

Umpatan terhadap Hamas yang ditonjolkan oleh Barat (terutama sekali Amerika Serikat dan Inggris) sebagai biang keladi penderitaan, sama sekali tidak telontar dari lisan rakyat Gaza.

Versi Terbaik Manusia

Seandainya para martir di seluruh pelosok dunia dihidupkan kembali untuk dimintai pendapat akan hal ini, mereka tidak akan sungkan untuk memuji semangat kesatuan yang diperlihatkan rakyat Gaza di semua level usia.

Melihat situasi seperti itu, membuat siapapun tidak enak hati untuk mengajarkan heroisme pada rakyat Palestina di Gaza. Heroisme dan ketenangan di tengah kecamuk perang dan ancaman kematian potensial tidak membuat lutut rakyat Gaza bergetar.

Rakyat Gaza dalam sudut pandang kesabaran serta ketangguhan mental merupakan versi terbaik manusia. Tidak diragukan lagi.

Mentalitas dan daya juang rakyat Gaza, saat ini, sebenarnya mirip dengan nyala semangat serta keberanian rakyat Indonesia ketika berjibaku di masa perang kemerdekaan (1945-1949).

Kita semua tahu frasa “Merdeka atau Mati” (Freedom or Death) bukan sekedar slogan atau hiasan kata yang tertulis di tembok-tembok perkotaan Indonesia.

“Merdeka atau mati” adalah keputusan bulat rakyat Indonesia yang tidak sudi tanahnya diinjak kembali oleh penjajah. Rakyat, kombatan, dan laskar-laskar siap “setor” nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan.

BACA JUGA  Enam Bayi dan Sembilan Pasien ICU di RS As Shifa Gaza Meninggal akibat Kekurangan Oksigen

LEAVE A REPLY