Jakarta, ZNews.id – Hingga memasuki hari ke-40 pascabencana, para penyintas bencana ekologis di Dusun Serba, Desa Serba Luar, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, masih menghadapi keterbatasan akses air bersih. Banjir bandang yang terjadi pada 25 November 2025 lalu memutus saluran air bersih yang selama ini digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Sejak kejadian tersebut, masyarakat Dusun Serba terpaksa memanfaatkan air kubangan banjir dan parit-parit yang tergenang sebagai sumber air. Kondisi ini memaksa warga menempuh jarak cukup jauh demi memenuhi kebutuhan dasar seperti minum, mandi, dan mencuci.

Nia (27), salah satu penyintas banjir, mengaku harus berjalan kaki sekitar 20 menit menuju area kebun untuk mendapatkan air. Di lokasi tersebut, ia dan warga lainnya mengandalkan air parit untuk berbagai keperluan.

“Kami harus berjalan sekitar 20 menit ke tengah hutan. Kadang juga mandi dan mencuci di sungai bawah jembatan dekat posko. Airnya memang masih kotor, tapi tidak ada pilihan lain,” ujar Nia.

Situasi serupa dialami seluruh penyintas yang saat ini tinggal sementara di pos pengungsian. Jarak yang jauh dan kualitas air yang tidak layak menjadi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan air bersih.

Menjawab persoalan tersebut, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa mengaktifkan sumur bor air bersih di Dusun Serba, Desa Serba Luar, Aceh Tamiang, pada Senin (5/1/2026). Kehadiran sumur bor di sekitar posko pengungsian menjadi solusi penting di tengah krisis air bersih yang dialami warga sejak bencana melanda.

Kini, para penyintas dapat mengakses air bersih dengan jarak yang lebih dekat dan aman. Aktivasi sumur bor ini merupakan hasil kolaborasi antara Dompet Dhuafa dan Unit Pengelola Zakat dan Dana Kebajikan (UPZDK) Permata Bank Syariah. Air dari sumur bor tersebut menjangkau sekitar 650 jiwa penerima manfaat di sekitar posko pengungsian Desa Serba Luar.

“Alhamdulillah, sejak ada sumur bor kami tidak perlu lagi berjalan jauh ke kebun. Di sekitar posko sudah tersedia air bersih untuk mencuci pakaian, menampung air minum dan memasak, serta berwudhu,” tutur Nia.

Penanggung Jawab Respons DMC Dompet Dhuafa untuk Aceh Tamiang, Ahmad Yamin, menjelaskan langkah selanjutnya adalah pembangunan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) guna memaksimalkan pemanfaatan air bersih tersebut.

“Untuk mendukung pemanfaatan air bersih di Dusun Serba, kami akan membangun fasilitas MCK. Saat ini warga masih harus ke sungai untuk buang air, sehingga keberadaan MCK sangat dibutuhkan,” jelas Ahmad Yamin.

Menurutnya, fasilitas sanitasi yang layak akan sangat membantu penyintas di sekitar posko pengungsian dalam memenuhi kebutuhan kebersihan dan kesehatan sehari-hari.

Selain menghadirkan sumur bor, kolaborasi Dompet Dhuafa dan UPZDK Permata Bank Syariah juga menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan lainnya pada Senin (5/1). Bantuan tersebut meliputi Paket Bantuan Ibu dan Anak, hygiene kit, serta ratusan porsi makanan siap saji bagi penyintas di Aceh Tamiang.

Paket Bantuan Ibu dan Anak yang berisi selimut, sajadah, mukena, pembalut, popok bayi, minyak, bubur bayi, dan kebutuhan lainnya, serta hygiene kit, disalurkan kepada para ibu yang tinggal di tenda-tenda darurat di Dusun Tualang, Desa Tanjung Genting, Kecamatan Kejuruan Muda. Sementara itu, sebanyak 500 porsi makanan siap saji dari Dapur Umum Dompet Dhuafa didistribusikan untuk penyintas di Dusun Tualang dan Desa Batang Ara, Aceh Tamiang.

Upaya pemulihan bagi penyintas banjir di Aceh Tamiang hingga kini masih terus berlanjut. Penyediaan air bersih, sanitasi yang layak, serta pemenuhan kebutuhan dasar menjadi fokus utama dalam masa pemulihan.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, Dompet Dhuafa berkomitmen untuk terus mendampingi para penyintas hingga kondisi kehidupan mereka berangsur membaik. Karena bumi cuma satu, berdaya sekarang.

LEAVE A REPLY