Jakarta, ZNews.id – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan dan kini berada di posisi terendah dalam hampir empat tahun terakhir. Pelemahan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan sikap yang dinilai pasar sebagai penerimaan terhadap depresiasi mata uang negaranya.

Saat dimintai tanggapan mengenai anjloknya dolar, Trump justru menyatakan tidak melihat kondisi tersebut sebagai masalah.

“Menurut saya ini justru baik. Coba perhatikan aktivitas bisnis yang sedang kami jalankan. Dolar dalam keadaan baik,” ujar Trump, dikutip dari Bloomberg, Rabu (28/1/2026).

Pernyataan tersebut semakin memperdalam tekanan terhadap dolar yang sebelumnya sudah mengalami penurunan signifikan. Terutama sejak kebijakan tarif perdagangan Trump kembali memicu gejolak di pasar global. Investor pun menilai sikap tersebut membuka ruang pelemahan dolar yang lebih lanjut.

Indeks Dolar Melemah ke Level Terendah Sejak 2022

Pascakomentar Trump, Bloomberg Dollar Spot Index tercatat memperpanjang pelemahan hingga sekitar 1,2%, mencerminkan turunnya dolar terhadap seluruh mata uang utama dunia. Meski pergerakannya sempat stabil di sesi Asia, tekanan masih terlihat jelas.

Data Bloomberg menunjukkan, hingga pukul 11.20 WIB, indeks dolar melemah 0,1 poin atau 0,1% ke level 96,11, yang merupakan posisi terendah sejak awal 2022.

Pelaku pasar memandang pernyataan Trump sebagai sinyal pelemahan dolar tidak lagi menjadi perhatian utama pemerintah AS, sehingga mendorong aksi jual lanjutan.

Dolar Lemah Dinilai Sejalan dengan Kepentingan Ekspor

Selama ini, Trump kerap mengkritik negara lain yang dinilai sengaja melemahkan mata uang demi meningkatkan daya saing ekspor. Namun, pernyataannya kali ini justru dianggap sejalan dengan pandangan sebagian pejabat di lingkaran pemerintahannya.

“Ada pandangan kuat di dalam kabinet Trump bahwa dolar yang lebih lemah akan membantu meningkatkan daya saing ekspor AS,” ujar Win Thin, Kepala Ekonom Bank of Nassau.

Meski demikian, Thin mengingatkan strategi tersebut mengandung risiko.

“Mata uang yang melemah bisa memberikan keuntungan, tetapi jika tidak terkendali, dampaknya bisa berbalik menjadi masalah,” katanya.

Penguatan Yen dan Faktor Global Tekan Dolar

Tekanan terhadap dolar AS juga dipengaruhi oleh penguatan yen Jepang yang terjadi secara tiba-tiba sejak pekan lalu. Penguatan ini dipicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang berpotensi melakukan langkah intervensi untuk menopang mata uangnya.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan Trump turut memperburuk sentimen pasar. Mulai dari wacana pengambilalihan Greenland, sikap terhadap independensi Federal Reserve, pemotongan pajak yang memperlebar defisit fiskal, hingga gaya kepemimpinan yang memperdalam polarisasi politik AS, semuanya dinilai menggerus kepercayaan investor global terhadap aset AS.

Imbal Hasil Naik, Dolar Tetap Tertekan

Pelemahan dolar terjadi di tengah kondisi yang tidak lazim. Imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, dan pasar memperkirakan The Fed akan menahan laju penurunan suku bunga. Secara teori, kedua faktor tersebut biasanya mendukung penguatan dolar.

Namun, keinginan Trump agar suku bunga ditekan lebih rendah justru dipersepsikan pasar sebagai tambahan tekanan terhadap mata uang AS.

Situasi ini mendorong investor mengalihkan dana ke aset lindung nilai, terutama emas, yang harganya mencetak rekor tertinggi. Aliran dana juga mulai bergerak ke pasar negara berkembang dan aset berisiko lainnya, seiring meningkatnya rotasi keluar dari aset AS.

Pasar Masih Bertaruh Dolar Akan Melemah

Sejak Trump dilantik, indikator dolar versi Bloomberg telah turun hampir 10%. Pelaku pasar masih memasang posisi yang mengantisipasi penurunan lanjutan.

Premi opsi jangka pendek yang diuntungkan dari pelemahan dolar kini berada di level tertinggi sejak Bloomberg mulai mencatat data tersebut pada 2011. Ekspektasi penguatan mata uang lain pun mendekati titik tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Aktivitas transaksi juga melonjak tajam. Pada Senin, nilai transaksi yang diproses oleh Depository Trust & Clearing Corporation tercatat sebagai yang tertinggi kedua sepanjang sejarah.

Trump Klaim Bisa Mengendalikan Dolar

Dalam pernyataan terpisah, Trump bahkan menyebut dirinya memiliki kemampuan untuk memengaruhi nilai dolar, baik menguatkan maupun melemahkannya.

Ia menyebut pergerakan dolar bisa dibuat naik turun seperti “yo-yo”, meski mengakui kondisi tersebut bukan situasi ideal. Trump kembali menyoroti negara-negara Asia, khususnya China dan Jepang, yang menurutnya kerap berupaya mendevaluasi mata uang.

“Yen dan yuan selalu ingin dilemahkan. Itu membuat persaingan menjadi tidak adil,” kata Trump.

Dengan kombinasi faktor kebijakan, geopolitik, dan pergeseran preferensi investor global, pasar menilai dolar AS masih menghadapi tekanan besar dalam waktu dekat.

LEAVE A REPLY