Ilustrasi: Santri mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Nurul Ihsan di Kampung Cilewong, Lebak, Banten. (Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas)

Oleh: Khairuddin Habziz (Katib Ma’had Aly Situbondo)

ZNEWS.ID JAKARTA – Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Dr KH Afifuddin Muhajir MA, dalam kesempatan diskusi menyampaikan bahwa pendekatan moderasi dalam keilmuan sangat penting.

Menurutnya, pendekatan wasathiyah dalam tiga ajaran pokok Islam, ilmu akidah, syariah, dan tasawuf yang dipetik dari hadis Jibril, harus dapat diintegrasikan dengan baik dan dinamis.

Perkembangan keilmuan, terutama kemajuan sains dan teknologi adalah hal yang sangat masif. Kita tidak dapat mengelaknya sebagai bentuk perkembangan kemajuan peradaban umat manusia.

Untuk itu, perlu ada adaptasi keilmuan yang tak selalu memperhadapkan kutub ilmu agama dengan ilmu nonagama. Disparitas ini harus diakhiri. Mengapa?

Kedua kutub itu, baik ilmu agama dan non agama, keduanya sama-sama bersumber dari Allah SWT. Kiai Afif menyampaikan, “Kalau alam semesta sebagai ayat-ayat kauniyah, dibaca dengan baik, maka akan lahirlah beragam ilmu sains.

Begitu pula ayat-ayat qur’aniyah atau tanziliyah, jika dipahami dengan baik akan melahirkan ilmu-ilmu agama. Kedua-keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT.”

Yang menarik menurut Wakil Rais Aam PBNU ini, sekarang diperlukan pengembangan ilmu akidah. Referensinya cukup banyak dari beberapa kitab kuning yang diajarkan di pesantren. Fakta ini agar paralel dengan kemajuan sains dan teknologi.

BACA JUGA  Dompet Dhuafa dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia Tebar Hewan Kurban ke Pelosok Nusantara

LEAVE A REPLY