Ilustrasi sejumlah jemaah haji sedang melakukan sai. (Foto: Kemenag)

Oleh: Ishaq Zubaedi Raqib (MCH Daker Makkah Al Mukarramah)

ZNEWS.ID JAKARTA – Kisah ini laksana tetes air hujan. Turun dari langit. Dihembuskan oleh Malaikat Mikail. Hinggap dan menetap di pokok-pokok pohon di belantara hutan nan rimbun. Lalu, pindah ke lidah-lidah kaum beriman. Menghuni hati para pemuja dan pemburu syafaat Rasulillah.

Kisah ini pertama kali diunggah “penyair kiai” dari Pulau Madura; KH D Zawawi Imron dan dikisahkan ulang oleh KH Jalaluddin Rakhmat. Kisah tersebut berkembang dari mulut ke mulut. Kini sampai kepada kita.

***

Syahdan, seorang nenek masuk ke pasar kecil di sebuah desa. Ia menyunggi nyiru kusam dan menjual bunga cempaka. Berangkat tidak lama seusai salat subuh dan baru tiba di pasar setelah berjalan cukup lama dan agak jauh.

Keringat membasahi baju kaus tipisnya yang terbuat dari bahan tetoron. Kaus lengan panjang bekas seragam kampanye saat pemilihan kepala daerah yang lusuh. Ada gambar jari dan angka di punggung nenek yang melengkung.

Menjelang siang, nenek mampir ke masjid dekat pasar. Masjid agung di desa itu. Setelah membasuh tangan, mencuci kaki, ia mulai berwudhu. Membaca doa sekadarnya, lalu melangkah masuk dengan bacaan yang sebagian sudah ia lupa.

Dengan tuma’ninah ia salat tahiyat masjid dan salat mutlak. Duduk tawarruk sebentar. Melantunkan wirid-wirid pendek. Lalu beringsut, menahan lutut yang rapuh dan turun menuju halaman. Ia merunduk dan mulai memungut daun-daun.

Daun-daun yang berguguran, memenuhi halaman. Bergerak-gerak dihembus angin. Satu-satu diambil. Dikumpulkan di atas nyiru bunga cempaka. Tentu butuh waktu agak lama membersihkan halaman dari daun-daun dengan cara itu.

BACA JUGA  Jemaah Haji Dapat Smart Card, Apa Fungsinya?

LEAVE A REPLY