JAKARTA, ZNEWS.id – Setelah galodo menyapu kawasan Palembayan, Sikabau yang berada di Kabupaten Agam berubah menjadi kampung sunyi karena jembatan yang selama ini menjadi urat nadi warga lenyap diterjang arus.

Galodo menyisakan satu-satunya jalan keluar yakni menyusuri jalur tanah dengan berjalan kaki hampir satu jam lamanya.

Hujan deras yang mengguyur berhari-hari memicu longsor di beberapa titik. Akses logistik terhenti, aktivitas ekonomi lumpuh, dan dapur-dapur warga perlahan kehilangan isinya. Dalam situasi itu, bertahan hidup menjadi perjuangan harian.

“Sejak jalan terputus, kami tidak bisa ke pasar. Mau bekerja pun tidak ada jalan. Penghasilan berhenti,” kata Apriani Dewi, warga Sikabau yang selamat dari galodo.

Warga mengandalkan persediaan seadanya. Bantuan baru dapat menjangkau wilayah tersebut setelah aparat membangun jembatan darurat.

Di tengah keterbatasan itulah Dompet Dhuafa bersama KitaBisa masuk ke Sikabau, membawa lebih dari bantuan logistik, mereka membawa harapan.
Relawan harus menempuh jalur yang tidak mudah. Berjalan kaki melintasi medan longsor, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor, hingga akhirnya Dapur Umum berhasil didirikan pada Selasa (11/12/2025) di SDN 26 Kayu Pasak.

Hari pertama, 150 porsi makanan hangat dibagikan kepada warga. Menu sederhana itu menjadi penanda bahwa Sikabau tidak sendiri. Dapur Umum juga menjadi ruang temu: tempat warga dan relawan berbagi cerita, tawa, dan kekuatan.

Keesokan harinya, layanan diperluas melalui kolaborasi dengan Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC). Sebanyak 231 porsi makanan untuk orang dewasa disalurkan, bersamaan dengan 50 porsi PMBA bagi bayi dan anak, dengan pendampingan tenaga gizi setempat.

“Kami fokus memastikan dapur umum tetap berjalan dan warga mendapat asupan yang layak, meski akses masih terbatas,” ujar Firdaus, relawan Dompet Dhuafa.

Bagi Apriani, dapur umum adalah titik terang setelah malam mencekam saat galodo datang sekitar pukul sepuluh. Demi keselamatan anak, ia dan keluarga mengungsi ke rumah kerabat di bagian kampung yang lebih aman.

Kini, harapan warga tertuju pada pemulihan akses. Bagi mereka, jembatan bukan sekadar bangunan, melainkan jalan kembali menuju kehidupan yang normal. Selama proses itu berlangsung, pendampingan kemanusiaan akan terus dilanjutkan agar warga Sikabau dapat bangkit dan melangkah lagi.

LEAVE A REPLY