JAKARTA – Ngamuk lagi. Dua bulan terakhir, kasus subvarian Omicron yang di sebut JN.1 mengalami peningkatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tingkat penularannya pun tergolong cepat.

Dilansir dari bbc.com, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa varian baru Covid JN.1 memiliki penyebaran yang meningkat pesat di seluruh dunia, termasuk di India, China, Inggris, dan Amerika Serikat.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah mengonfirmasi satu kematian akibat Covid-19 yang disebabkan oleh varian ini.

Menurut WHO, subvarian baru dari varian Omicron, yaitu JN.1, dianggap sebagai variant of interest (varian yang perlu diperhatikan) karena cepatnya penyebarannya di berbagai negara.

Perhatikan Gejala pada Lansia

Ddokter spesialis penyakit dalam RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mira Yulianti Sp.PD-KP, mengatakan masyarakat perlu memerhatikan gejala varian baru dari Covid subvarian Omicron pada orang yang lebih tua maupun lansia, meskipun terlihat seperti gejala flu biasa.

“Orang tuanya banyak tidur, lemas, nggak mau makan, batuk pileknya nggak disertai demam itu lebih hati-hati bahwa sangat mungkin orang tua kita atau kakek nenek terkena Covid,” kata Mira, dilansir dari Antara.

Pada orang yang masih muda, virus jenis Omicron ini akan seperti gejala flu biasa, tidak terjadi keparahan yang berarti. Namun, pada orang yang lebih tua, terutama yang memiliki komorbid berat, akan menjadi masalah.

Bagi yang pernah terinfeksi Covid-19 sebelumnya dan melakukan vaksin lengkap, akan terbentuk sistem imun yang otomatis menangkal virus baru ini. Sehingga, gejalanya tidak separah dahulu.

“Alhamdulillah, saat ini tidak ke arah sana, jadi memang tingkat penularannya tinggi tapi yang menunjukkan gejala berat adalah orang-orang yang memang memiliki komorbid cukup berat, tapi nggak ada kasus kematian yang melonjak,” ungkap Mira.

BACA JUGA  Protokol Kesehatan di Pengungsian

LEAVE A REPLY