Jakarta, ZNews.id – Indonesia berada di titik krusial dalam menentukan masa depan industrinya. Di tengah percepatan transisi energi dan persaingan teknologi global, logam tanah jarang (rare earth elements) muncul sebagai komoditas strategis yang bukan hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menentukan posisi suatu negara dalam rantai pasok industri dunia.
Logam tanah jarang tidak lagi sekadar isu pertambangan. Lebih dari itu, komoditas ini mencerminkan kemampuan sebuah negara untuk naik kelas—dari pemasok bahan mentah menjadi pemain industri berbasis teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi.
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R. Haidar Alwi, menegaskan bahwa nilai strategis logam tanah jarang tidak terletak pada seberapa besar cadangan yang dimiliki suatu negara, melainkan pada penguasaan proses pengolahan, pemurnian, dan pemanfaatan industrinya.
“Negara yang menguasai teknologi pemisahan dan pemanfaatan logam tanah jarang akan menguasai industri masa depan, mulai dari kendaraan listrik hingga pertahanan,” ujar Haidar Alwi dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu (1/2/2026).
Kaya Sumber, Lemah Pengolahan
Secara geologis, Indonesia tidak kekurangan potensi. Unsur logam tanah jarang banyak ditemukan sebagai mineral ikutan pada komoditas timah, nikel, serta sisa olahan tambang atau tailing yang selama ini kerap diperlakukan sebagai limbah.
Namun, persoalannya terletak pada posisi Indonesia yang masih berhenti di tahap awal rantai nilai. Produksi dalam bentuk bahan mentah atau campuran oksida belum memberikan dampak signifikan terhadap kemandirian industri nasional.
Di saat yang sama, negara lain justru memanfaatkan bahan baku tersebut untuk diproses lebih lanjut menjadi produk bernilai tinggi, seperti magnet permanen, motor listrik, hingga komponen elektronik. Produk jadi itu kemudian diimpor kembali ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal.
Kondisi ini menciptakan paradoks: kekayaan sumber daya alam justru memperkuat ketergantungan, bukan kedaulatan.
Industri Strategis, Bukan Proyek Jangka Pendek
Pengembangan industri logam tanah jarang dinilai tidak bisa disamakan dengan proyek tambang konvensional. Biaya teknologinya tinggi, pasarnya sangat sensitif, dan risikonya besar, terutama pada tahap awal.
Menurut Haidar Alwi, pendekatan berbasis keuntungan jangka pendek justru akan menghambat lahirnya industri ini. Negara perlu hadir secara aktif dengan visi jangka panjang dan keberanian mengambil risiko.
“Keberhasilan industri logam tanah jarang harus diukur dari penguasaan teknologi dan berkurangnya ketergantungan impor, bukan semata-mata laba dalam waktu singkat,” ujarnya.
Tanpa peran negara yang tegas, agenda hilirisasi berpotensi berhenti sebatas jargon kebijakan.
Peran Strategis Perminas
Dalam konteks ini, Perminas dipandang memiliki posisi penting sebagai instrumen negara. Entitas ini dinilai tidak seharusnya diperlakukan seperti badan usaha tambang biasa yang berorientasi pada profit cepat.
Perminas diharapkan menjalankan fungsi strategis: mengelola unsur logam tanah jarang bernilai tinggi sebagai aset nasional, membangun kapasitas pengolahan secara bertahap, serta menjembatani sumber daya alam dengan kebutuhan industri dalam negeri.
Sektor-sektor seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, dan pertahanan disebut sebagai pengguna utama logam tanah jarang di masa depan. Tanpa penguasaan material dasar ini, Indonesia akan terus bergantung pada impor komponen strategis.
Belajar dari Hilirisasi Nikel
Pengalaman hilirisasi nikel menjadi pelajaran penting. Pembangunan smelter memang meningkatkan nilai tambah, tetapi tanpa pengembangan produk lanjutan, ketergantungan terhadap teknologi dan impor tetap terjadi.
Dalam kasus logam tanah jarang, tantangannya bahkan lebih kompleks. Pasar komoditas ini sarat kepentingan geopolitik dan penguasaan teknologi, sehingga tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar atau keputusan investor semata.
“Arah industri logam tanah jarang harus ditentukan negara. Jika tidak, kita hanya mengulang pola lama dengan wajah baru,” kata Haidar Alwi.
Antara Momentum dan Ketertinggalan
Jika Perminas diberikan mandat strategis yang jelas dan konsisten, Indonesia berpeluang mengubah limbah tambang menjadi sumber kekuatan industri nasional. Lebih dari itu, Indonesia dapat mulai mengendalikan bagian penting dari rantai nilai global.
Sebaliknya, tanpa keberanian mengambil risiko awal dan menentukan arah kebijakan, Indonesia akan terus berada di pinggir—kaya sumber daya, tetapi miskin kendali.
Logam tanah jarang kini menjadi ujian nyata: apakah Indonesia mampu keluar dari perangkap pemasok bahan mentah, atau kembali kehilangan momentum di tengah persaingan industri global yang semakin ketat.



























