JAKARTA, ZNEWS.id – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerima alokasi dana sebesar Rp 500 juta per 12 hari untuk menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BGN Dadan mengatakan, pola penyaluran anggaran MBG berbeda karena mayoritas dana langsung disalurkan ke dapur-dapur SPPG, bukan melalui pemerintah daerah. Ia menyebut sekitar 93 persen anggaran BGN dialirkan langsung ke SPPG.
“BGN hadir menghadirkan pola baru, di mana 93 persen dana BGN itu disalurkan langsung ke SPPG-SPPG. Jadi, kalau ada dana Rp 268 triliun, kurang lebih Rp 240 triliun uang beredar dari Sabang sampai Merauke, dan per 12 hari setiap SPPG menerima Rp 500 juta,” ujar Dadan.
Saat ini, BGN mencatat terdapat 24.122 SPPG atau dapur MBG yang telah beroperasi.
Dadan menegaskan, dalam model ini tidak ada penyaluran dana dari pusat ke pemerintah daerah, melainkan langsung ke unit pelaksana di lapangan. Anggaran MBG tahun 2026 sendiri mencapai Rp 268 triliun dan sebagian besar dialokasikan untuk operasional dapur MBG.
BGN juga mengungkapkan bahwa dana yang telah beredar melalui program tersebut hingga saat ini mencapai sekitar Rp 36 triliun.
Perputaran dana tersebut dinilai memberi dampak langsung pada sektor produksi lokal.
Melalui program MBG, produk-produk lokal dijamin penyerapannya sehingga menciptakan kepastian pasar bagi petani dan pelaku usaha daerah. Dadan mencontohkan adanya petani di Nusa Tenggara Timur yang merasakan kenaikan harga komoditas seperti wortel hingga tiga kali lipat.
Peningkatan serapan produksi lokal itu turut berdampak pada naiknya Nilai Tukar Petani (NTP). Dadan menyebut rata-rata NTP saat ini berada di angka 125, meningkat dari sebelumnya sekitar 102.
Menurutnya, jika NTP berada di kisaran 100–102, hasil produksi petani umumnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun dengan NTP 125, petani dinilai memiliki ruang lebih untuk investasi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Ia pun optimistis program MBG dapat terus mendorong kenaikan NTP, bahkan hingga mencapai 150, seiring besarnya perputaran dana yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya pada awal tahun di Indonesia.



























