Ilustrasi Bekali Anakmu Ilmu Agama. (Foto: etahfizh.org)

ZNEWS.ID JAKARTA“Saya ga mau anak-anak saya jadi ustadz atau kyai. Bagi saya, yang penting mereka salat lima waktu, puasa Ramadan, bayar zakat, dan pergi haji kalau sudah waktunya. Rukun Islam, kan, cuma itu doang. Makanya saya gak pernah sekolahin mereka di sekolah yang ada agamanya kaya Madrasah, apalagi pesantren! Saya sudah panggil guru ngaji, kok, ke rumah, ngasih les baca Qur’an buat mereka. Asal baik sama orang, sopan, dan gak bikin ulah. Udah, itu aja. Gak perlulah belajar agama banyak-banyak karena mereka semua saya arahkan untuk menjadi dokter, tentara, pilot, atau apa saja, asal jangan ustaz atau kiai!” ujar Pak Fulan kepada temannya yang pengusaha itu.

“Sama dong, pak, anak-anak semua saya sekolahin di sekolahan nonmuslim. Bukan apa-apa sih, sekolahan nonmuslim lebih disiplin, sopan-sopan anaknya dan satu lagi, nih, yang bikin saya senang, juara umum terus kalo lomba!” ujar teman Pak Fulan menanggapi obrolan tersebut.

Obrolan semacam tadi bukan hoaks apalagi karangan. Bukan! Penulis ada di tengah-tengah mereka saat itu. Awalnya, kami bicara perkembangan politik yang terjadi di Tanah Air. Tidak tahu bagaimana jadinya, kok, obrolan kami menjadi melebar ke sana-sini dan tercetuslah percakapan pak Fulan tadi dan langsung diamini oleh kawannya itu.

Sepertinya, omongan itu tercetus karena ada politikus yang masuk ke jeruji besi lantaran tertangkap tangan KPK dalam kasus dugaan korupsi.

Politikus yang “diseret” KPK itu memang orang yang kesehariannya sangat terlihat agamis, berpeci, dan sering sekali mengutip ayat atau hadis ketika diwawancarai media atau ketika tampil di muka publik dalam acara-acara sosial, apalagi menjelang Pilkada.

Penulis saat itu tidak diberi ruang untuk menanggapi obrolan mereka, padahal kami hanya bertiga. Entah karena mereka menyadari bahwa penulis sering mengisi kajian di berbagai majelis taklim atau instansi pemerintah maupun swasta.

Ya, gampangnya, kata orang ustazlah, begitu! Karena tidak diminta menimpali, penulis hanya diam dan mereka mengalihkan obrolan seru mengenai bisnis-bisnis mereka yang tengah berjalan. Terlihat obrolan mereka bertambah seru dan bersemangat untuk hal ini.

Karena sudah hampir dua jam penulis menjadi pendengar setia obrolan mereka yang sangat seru itu, apalagi sedikit-sedikit terdengar angka “Em- eman”, terpaksa penulis harus pamit karena sebentar lagi harus mengisi kajian bakda Asar di masjid.

LEAVE A REPLY